Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan

Sisi Lain 5 : The First Person Infected

12.40 0


"halo, nama saya Toni. hmm.. anu, eng.."
"tak usah difikirkan, semuanya sudah disiapkan."

Dirga sudah mendapatkan calon relawan sesampainya di Pulau Jawa, meski baru beberapa orang tapi lebih dari cukup untuk sekedar percobaan.
"anda bersedia mengorbankan hidup anda demi uang?"
"ya, ya.. ehm.. saya bersedia. saya siap."
"alasan anda?"
"saya ingin membantu perekonomian keluarga saya."

sejujurnya Dirga merasa tidak enak dengan cara yang seperti ini, tapi Dirga yakin bahwa penelitiannya tidak ada kegagalan.

"Dirga! itu Dirga! hei semuanya! Dirga sudah kembali!" sorak Hanif.
"hai semuanya."
"kemana aja kamu dir? kita semua disini kehilangan kamu lho."
"ada deh."

disambut hangat oleh orang-orang di kampung halaman adalah hal yang tidak pernah dia rasakan, karena selama ini dia hanya mengabdikan hidupnya untuk belajar, belajar, dan belajar.

"eh, Giri mana?" hanya Syarif yang sedari tadi melihat Dirga dengan penuh kebingungan.
"eh iya, Giri mana?" Hanif pun mengikuti.
"maap semuanya, saya belum nemu Giri."

Dirga berbohong dengan ekspresi sedih. semuanya berkumpul dan mengadakan makan besar untuk menyambut kedatangan Dirga.
disela-sela pesta makan-makan, tiba-tiba seseorang muncul. menggunakan setelan metal, dan rambut punk yang di cat kuning kehijau-hijauan.

"woi! jatah gue mana!" 'brak!' Tora menggebrak
'buk!' Dirga langsung memukul Tora tanpa ragu-ragu, menendangnya, dan terus memukulinya hingga Tora menyerah dan meminta maaf.
orang-orang disekitar ingin menghentikan Dirga namun tak ada yang sanggup.

"Tora! elo dimana! jawab gue!!" Dirga berteriak didepan muka Tora yang sikapnya berubah drastis itu, menggenggam kerahnya dan menggoyang-goyangkannya dengan keras.
'brag!' tiba-tiba Tora yang lain itu menendang Dirga yang sedang mencengkeramnya.
"gue bukan Tora! Tora udah mati! gue Deni!"

akhirnya orang-orang memutuskan untuk menenangkan mereka berdua, dan menceritakan apa yang terjadi selama Dirga pergi.
"gak usah! gue udah tau semuanya. ini pasti ulah Giri!"
"Giri?! Maksud lu apa hah?! ngungkit-ngungkit orang yang udah mati!" Hanif langsung berdiri dan menggenggam kerah Dirga.

Dirga menenangkan Hanif dan menjelaskan kepada semuanya, Giri tidak mati. Giri saat ini sedang ada di suatu tempat yang entah dimana.
kejadiaannya saat di rumah kosong itu, Tora terinfeksi virus yang dibawa oleh Giri. sehingga kepribadiannya menjadi berubah seperti ini dan kemampuannya meningkat drastis dalam perkelahian.
karena itulah Tora yang saat ini bukanlah Tora yang mereka kenal.

Sisi Lain 4 : Project of The Star

06.43 1


 * Tiga Tahun Kemudian *

"Gir, gimana rencananya?" tanya Dirga.
"Beres coy, dua bulan lagi kita pulang." Giri menjelaskan tanpa melihat ke arah Dirga dan tetap fokus dengan menulis rencananya.
"Ya kalo bisa sih dipercepat Gir, kayaknya Tora udah mulai hilang kesadaran. Syarif sama Hanif juga kayaknya udah ancur hidupnya."

Giri dan Dirga sedang membuat sebuah rencana. rencana yang didalamnya melibatkan ketiga sahabatnya, rencana yang akan mengubah kehidupan di dunia ini.
"Dopamine, Serotonin, Melatonin, Endorphin." Giri menulis rencana sambil mengomel dan berfikir.
"oke, kita ke laboratorium aja." lanjut Giri.

Mereka berdua melanjutkan rencana untuk mengubah dunia yang mereka namakan "Project of The Star" , di pulau yang jauh dari hiruk pikuk suasana kota dan jauh dari percekcokan pemerintah Negeri ini, mereka membuat sebuah mahakarya yang luar biasa yang mampu membawa Negeri ini, bahkan dunia ini ke dalam perubahan dan rencana yang mereka buat sendiri.

"Dir, saya masih bingung sama yang ini. bisa kau selesaikan bagian ini?"
"okeh." timpal Dirga.

Project of The Star adalah suatu obat-obatan yang memiliki efek psikologis yang mampu merubah kebiasaan atau tingkah laku si pengonsumsinya, obat ini dinamakan PoTS. namun tidak hanya itu, obat ini juga direncanakan akan dicampur dengan obat-obatan yang sering beredar di Apotik.

"selanjutnya, kita butuh Kelinci Percobaan." jelas Dirga.
"hmm.. gimana cara dapetinnya?" tanya Giri, "mungkin binatang dulu aja ya?" lanjut Giri.
"manusia dan binatang itu berbeda, aku ada rencana."
"gimana?"
"gimana kalo kita bikin poster atau iklan dicari relawan, dengan begitu kita gak maksa mereka buat jadi percobaan. dan sebagai gantinya, kita ngasih mereka hadiah berupa uang atau sejenisnya. oke, urusan ini serahkan padaku saja." jelas Dirga.

akhirnya mereka memulai kembali penelitian luar biasa yang mereka lakukan di usia muda. sungguh tidak masuk akal jika orang dewasa yang normal mengetahui hal ini, tapi mereka bukanlah orang normal. mereka adalah orang-orang jenius lagi luar biasa dalam banyak hal.

"oke, penelitian selesai. obatnya hanya bereaksi selama satu minggu, efek sampignya hanya pingsan sebentar dan setelah bangun mereka menjadi orang yang berbeda."
"cool Gir, butuh berapa lama lagi buat mengubah reaksi obatnya agar bertahan dalam waktu yang cukup lama?"
"hmm.. tapi kita gabisa pulang dalam waktu dekat, gimana?"
"tenang aja, kamu fokus sama penelitian ini sementara saya pulang dan ngeliat kondisi Tora, Syarif dan Hanif."

Giri hanya mengangguk dan melanjutkan penelitiannya, sementara Dirga bersiap untuk beres-beres dan pulang ke kampung halaman.

* To Be Continue *



Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis

Sisi Lain 3 : What's Wrong?

15.58 0


Dirga pergi ke suatu tempat yang jauh, sementara ketiga temannya masih tetap berada di kampung tersebut.
"Giri enggak mati, harusnya dia udah nyampe di kota ini."
semua yang terjadi di rumah kosong tersebut ternyata hanyalah tipu daya Giri, mayat yang mirip Giri itu sebenarnya sudah disiapkan oleh pelayan Giri.

Giri dan Dirga adalah anak orang kaya, Ayah Giri merupakan CEO sekaligus pemilik Perusahaan besar di negara ini. Sedangkan Ayah Dirga merupakan Owner, pemilik restoran terlaris di negara ini yang jumlah restorannya sudah ada lebih dari 1000 tempat. sedangkan ketiga temannya yaitu Tora, Syarif, dan Hanif. Ayah mereka hanyalah Pegawai Negeri dan juga pedagang.

Ternate, Maluku Utara. Dirga sudah sampai ditempat ini, tempat Giri pergi.
"Lama gak ketemu, Dirga."
"apa kabar mu Gir?"
"cuma butuh waktu sebulan ya buat nemuin saya?"
"sebulan cukup lama lho."

Dirga dan Giri mengobrol dan bermain disepanjang pantai, mereka juga mengajak para warga disana khususnya anak-anak yang seumuran untuk ikut bermain dengan mereka.

sementara itu, dikampung halaman. Hanif dan Syarif mengunjungi rumah Tora, ternyata apa yang mereka lihat dari Tora selama ini hanyalah topeng. Tora menyiksa kedua orang tuanya sendiri, di hari libur kerja mereka.

"ngapain lo kesini hah?!" ekspresi Tora tersenyum licik seperti iblis, gaya bicaranya pun berubah.
Syarif dan Hanif ketakutan, dan cepat-cepat pergi dari rumah Tora.
"kalo kalian lapor ke warga, gue gak segan-segan buat manggang kalian jadi daging empuk hahaha."

tak ada lagi yang bisa dilakukan Syarif dan Hanif, tanpa Dirga mereka tidak tau harus berbuat apa. tanpa Dirga pula, Tora berubah menjadi seperti ini. padahal sebelumnya Tora bahkan muntah saat hanya melihat setetes darah, namun kini dia menjadi orang yang haus darah.

Tora adalah yang paling tinggi diantara mereka, Dirga paling standar dan Giri paling pendek. Tingginya Tora bahkan melebihi tinggi orang tuanya, karena itulah dia bisa menjadikan orang tuanya budak.

Syarif dan Hanif terus berpikir, merenung dan meratapi betapa bodohnya mereka tidak bisa menghentikan teman mereka dari berbuat jahat.
kemudian mereka teringat dengan kata-kata Dirga.
"untuk saat ini kita berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Pertemuan kita selanjutnya di Makam ini 6 tahun yang akan datang."

"nif, lu tau nggak alasan Dirga mengatakan itu." tanya Syarif.
"gue juga penasaran Rif."
"entah kenapa gue ngerasa kalo Dirga itu memberikan sesuatu kepada kita."
"sesuatu apa Rif?"
"mungkin Dirga ingin agar kita dapat menyikapi setiap masalah yang kita hadapi tanpa campur tangan dari dia."

mereka berdua terus mencari alasan kenapa Dirga memutuskan untuk pergi dari sini. bermain sambil berfikir, itulah yang mereka lakukan saat ini. mereka bermain Badminton sambil berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.

*To Be Continue* 


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis

Sisi Lain 2 : Good Bye

18.15 0




“ Siapa kau ?? “ tanya Dirga
Makhluk itu membalikan badannya, “Gwaaahhh !!” Dirga menjerit ketakutan. “si..sia..siapa kau ?? ke..kenapa kau datang kesini ?? “ tanya Dirga sambil menutupi dirinya dengan selimut. 

Makhluk berjubah hitam dengan tinggi 190cm, Rambutnya pendek cepak, dari belakang terlihat seperti manusia, tapi saat membalikkan badan muka nya hancur, mata kiri nya meleleh mengalir kewajah nya lalu jatuh, hidung nya potong rata berbentuk love terbalik mengeluarkan bau busuk, mulutnya sobek panjang hingga telinga, dan Gigi nya taring seperti gigi Vampir seolah-olah ingin memakan manusia.

Saat ditanya oleh Dirga, makhluk itu tidak menjawab sama sekali. Dalam hati Dirga pun berusaha membaca ayat kursi sekencang-kencangnya, lalu makhluk itu pun angkat bicara juga. “huaaaa!!! panas!! Panas!! Panas!! “ teriak makhluk itu sambil lari-lari melayang menembus tembok lalu menghilang. Dirga pun merasa lega karena Makhluk itu sudah pergi, Dirga kembali tidur. Dalam tidur dia bermimpi.

“Dirga ! Dirga ! “ kata seseorang yang entah siapa tiba-tiba membangunkan Dirga,
“Giri ! ini kamu Giri ?! “ tanya Dirga.
“iya ini aku Dirga, makhluk yang tadi kau usir itu.. dia yang menunggu jasadku dan menghilangkan jasadku agar orang-orang tidak dapat menemukan jasadku, berkat kau barusan mereka langsung menemukan jasadku disana. Kau memang hebat Dirga, kau bisa tahu kalau makhluk itu ada di kamarmu dan alasan kau tidak ikut mencari jasadku adalah untuk melenyapkan makhluk itu kan? .” Jelas Giri seraya bertanya
“iya, firasatku mengatakan demikian. Giri, apa kau baik-baik saja disana?? “ tanya Dirga
“Aku baik-baik saja kok Dir, Dir.. ini untuk terakhir kali nya, aku hanya meminta kalian agar tetap bersama meskipun aku sudah tidak ada. Dir, jaga mereka baik-baik yah.. kita ini sahabat, yasudah aku pulang dulu yah. “ jelas Giri
“hks..hks.. Giriii ! baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu itu! Tapi tolong jangan pergii !! “ kata Dirga sambil meneteskan air mata
“maafkan aku Dirga, sampaikan maaf ku untuk semuanya.. aku harus pulang, tuhan sudah berkehendak lain.” Kata Giri

“hfttt” Dirga bangun dari mimpi nya, sungguh itu mimpi yang seperti nyata. Seorang seperti Giri harus pergi, dialah yang pertama kali membuat Dirga dan kawan-kawannya saling mengenal satu sama lain, dialah yang pertama kali mengajak Dirga dan kawan2 nya bermain, dia yang selalu membuat suasana ceria dikala ada pertengkaran satu sama lain. 

dia yang selalu tersenyum meski dalam hati nya sedang ada masalah, dia yang selalu memotivasi kawan-kawan nya agar bangkit dari kelelahan, bangkit dari kekalahan, bangkit dari kesedihan, dan dia yang memimpin kawan-kawan nya menuju kebahagiaan. Satu-satu nya orang yang selalu mengajak bermain, selalu mengajak kawan-kawan nya untuk ceria dan bahagia meski ada masalah yang sedang terjadi.

Itulah Giri, tanpa dia.. Dirga dan kawan-kawan kehilangan semangat bermain, kehilangan keceriaan yang dahulu mereka miliki, dan untuk sementara.. mereka berpisah. Pertemuan terakhir mereka adalah Makam Giri, disaat semua orang sudah pulang mereka berbincang-bincang. Meski ini sangat berat bagi Dirga. 

namun Dirga mengatakan “ pesan terakhir dari Giri adalah sampaikan maaf untuk semuanya, untuk saat ini kita berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Pertemuan kita selanjutnya di Makam ini 6 tahun yang akan datang. Ingat itu ! “ jelas Dirga. Mereka pun pulang kerumah masing-masing, dan mulai saat itu mereka tidak pernah bermain bersama.

Ada apa dengan mereka ?? mengapa Dirga memutuskan untuk berpisah ?? apa alasan Dirga memutuskan itu ?? apa rencana Dirga??

*Bersambung*


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis

Sisi Lain : Where are You Giri?

00.01 0


Sisi lain, setiap manusia memiliki sisi negatif dan positif.. sisi yang berbeda dengan sisi yang saat ini ada pada dirinya akan muncul suatu saat nanti. Tetapi hanya orang-orang tertentu yang memiliki sisi yang mengagumkan itu. Dahulu kala, lahirlah seorang anak yang diberi kelebihan sisi dalam diri nya yang akan muncul suatu saat nanti.

Cirebon, 25 Mei 1973 lahir seorang anak bernama Ahmad Dirgantara atau yang biasa disebut Dirga. Kisah ini dimulai saat Dirga menginjak umur 9 tahun, umur dimana dia mulai bermain dengan lingkungan sekitarnya. Dia mulai mengenal teman-teman nya yang akrab dengannya, Giri, Tora, Syarif, dan Hanif mereka adalah teman-teman nya saat ia berumur 9 tahun. Dirga dan ke 4 teman nya selalu bermain bersama, mereka bahkan belajar di sekolah yang sama SDN 4 Cirebon.

Suatu hari Dirga dan ke 4 temannya sedang bermain petak umpet di sebuah tempat yang akrab disebut Rumah kosong, Dirga yang jaga pada saat itu. “...7 8 9 10 “ hitung Dirga sambil membuka mata lalu mencari teman-teman nya yang sedang bersembunya. “Tora ! kena !” Dirga menemukan Tora , ia pun berlanjut mencari yang lain “Hanif ! kena ! “ Dirga menemukan Hanif, “Syarif ! kena!” karena Syarif bersembunyi di dekat Hanif maka Dirga dengan cepat menemukan nya.

Tik tuk tik tuk, 1 jam telah berlalu Dirga masih belum menemukan Giri. Ketiga teman-nya pun tidak ada yang tahu dimana Giri bersembunyi,

“dia itu bodoh! Kalau sampai dia hilang, kita yang repot !” celoteh Dirga.
“mau bagaimana lagi? Kita disini udah lama nunggu, tapi dia belum muncul juga. Ngga biasanya Giri betah bersembunyi selama berjam-jam “ jelas Tora.
“lagian kita ini masih muda, Giri udah ngajak kita main di tempat kaya gini. Bukan kah seharusnya Giri lebih tahu tempat ini? Lantas kenapa dia nggak muncul-muncul? “ Hanif menggerutu,
“bagaimana kalo kita mencarinya bersama-sama? Tempat ini sepi, ini udah jam 4 sore kita ngga bisa terus diem nunggu Giri.” Jelas Dirga dan mereka pun setuju.

Syarif berbisik pada Tora “Dirga itu aneh ya, dia seperti tahu segala nya.”
Tora membalas “dia memang seperti itu, kita beruntung punya sahabat kaya dia.”
mereka berusaha mencari keberadaan Giri yang menghilang begitu saja, sampailah mereka pada suatu pintu yang mengundang kecurigaan mereka. Pintu itu bertuliskan “Kau Akan Mati !” ,

mereka kebingungan karena tidak tahu apa maksud dari tulisan itu. tiba-tiba Dirga merasakan firasat buruk “Arrgghh, Giri ! teman-teman kita harus mendobrak pintu ini ! pintunya terkunci ! Giri ada didalam !” tegas Dirga . mereka pun berusaha mendobrak pintu itu, namun karena usia mereka yang masih 9 tahun dan tubuh mereka yang masih lemah mereka tidak dapat mendobrak pintu itu.

“ah sial ! berfikir..berfikir..berfikir.. yeah ! aku punya ide, disela2 pintu ada sebuah kotak yang membuat pintu itu terkunci. Itu artinya mereka memakai kunci kusen pintu bukan kunci buatan, dari lobang kusen aku tidak bisa melihat ruangan didalam, itu artinya kunci nya masih menempel di kusen pintu. Tora ! kau bawa pensil kan? Berikan padaku aku akan mendorong kunci itu jatuh, Syarif ! kamu bawa kertas kan? Buka lipatannya lalu masukan ke sela2 dibawah pintu, sela2 dibawah pintu cukup besar jadi aku akan mendorong kunci itu jatuh dan berada dibawah kertas, lalu aku akan menarik kertas itu secepatnya maka kita dapat kunci nya.” Jelas Dirga panjang lebar

“kau cerdas Dirga ! itu ide yang luar biasa !” puji Hanif , mereka pun segera mendapatkan kunci itu lalu membuka pintunya. Namun, mereka mendapati Giri sudah tidak bernyawa lagi. Tubuh Giri penuh luka, mulutnya sobek, di dada nya terdapat bekas bacokan, kaki kanan nya potong, jari-jari tangan kiri nya potong semua, mereka semua menangis menyesal kecuali Dirga. 
“sial ! kita telat !” Hanif menggerutu.
“jangan berisik ! disini masih ada orang yang membunuh Giri !” tegas Dirga sambil mengamati ruangan sekitar . tiba-tiba “bsett!” sekilas bayangan besar melintasi mereka, mereka pun mulai ketakutan dan “cepat keluar dari ruangan ini ! mereka bukan manusia !” perintah Dirga. Mereka pun segera keluar dan menutup pintu nya dengan kencang, mereka berlari keluar rumah kosong itu.

“huh..huh.. bisa-bisa nya kalian menangis di ruangan berbahaya itu. Asal kalian tahu, aku juga baru menyadari nya itu adalah Ruangan terlarang yang pernah diceritakan masyarakat sekitar, disana aku melihat monster berkepala botak, telinga nya panjang, gigi nya bertaring, matanya merah, kulit nya berwarna biru, dia seperti pemangsa manusia, Untung saja kalian langsung lari.” Jelas Dirga kepada teman-temannya,. 
“jadi Giri adalah korban dari monster itu ya? Dia itu memang tidak bisa diharapkan “ ucap Syarif.
“lebih baik sekarang kita beritahu kepada warga tentang masalah ini, kita tidak bisa mengatasi nya sendiri.” Kata Dirga, mereka pun pergi ke rumah pak RT untuk memberitahukan masalah ini kepada warga sekitar. Pukul 5 sore mereka pulang ke rumah nya masing-masing.

Malam itu langsung diadakan pencarian mayat Giri, tapi Dirga tidak ikut. Saat sedang tiduran dikamar memikirkan masalah nya, tiba2 dia melihat arwah Giri melayang dan melambaikan tangan kepada Dirga sambil tersenyum. Dirga pun berkata “semoga kau tenang dialam sana sahabat ku.”

Dirga pun tertidur pulas, pukul 00.02 Dirga bangun dari tidur nya mendapati seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya, siapakah dia?? Apakah ini ada hubungannya dengan Giri atau teman-temannya??

*Bersambung*


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis