Tampilkan postingan dengan label Mystery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mystery. Tampilkan semua postingan

Sisi Lain 5 : The First Person Infected

12.40 0


"halo, nama saya Toni. hmm.. anu, eng.."
"tak usah difikirkan, semuanya sudah disiapkan."

Dirga sudah mendapatkan calon relawan sesampainya di Pulau Jawa, meski baru beberapa orang tapi lebih dari cukup untuk sekedar percobaan.
"anda bersedia mengorbankan hidup anda demi uang?"
"ya, ya.. ehm.. saya bersedia. saya siap."
"alasan anda?"
"saya ingin membantu perekonomian keluarga saya."

sejujurnya Dirga merasa tidak enak dengan cara yang seperti ini, tapi Dirga yakin bahwa penelitiannya tidak ada kegagalan.

"Dirga! itu Dirga! hei semuanya! Dirga sudah kembali!" sorak Hanif.
"hai semuanya."
"kemana aja kamu dir? kita semua disini kehilangan kamu lho."
"ada deh."

disambut hangat oleh orang-orang di kampung halaman adalah hal yang tidak pernah dia rasakan, karena selama ini dia hanya mengabdikan hidupnya untuk belajar, belajar, dan belajar.

"eh, Giri mana?" hanya Syarif yang sedari tadi melihat Dirga dengan penuh kebingungan.
"eh iya, Giri mana?" Hanif pun mengikuti.
"maap semuanya, saya belum nemu Giri."

Dirga berbohong dengan ekspresi sedih. semuanya berkumpul dan mengadakan makan besar untuk menyambut kedatangan Dirga.
disela-sela pesta makan-makan, tiba-tiba seseorang muncul. menggunakan setelan metal, dan rambut punk yang di cat kuning kehijau-hijauan.

"woi! jatah gue mana!" 'brak!' Tora menggebrak
'buk!' Dirga langsung memukul Tora tanpa ragu-ragu, menendangnya, dan terus memukulinya hingga Tora menyerah dan meminta maaf.
orang-orang disekitar ingin menghentikan Dirga namun tak ada yang sanggup.

"Tora! elo dimana! jawab gue!!" Dirga berteriak didepan muka Tora yang sikapnya berubah drastis itu, menggenggam kerahnya dan menggoyang-goyangkannya dengan keras.
'brag!' tiba-tiba Tora yang lain itu menendang Dirga yang sedang mencengkeramnya.
"gue bukan Tora! Tora udah mati! gue Deni!"

akhirnya orang-orang memutuskan untuk menenangkan mereka berdua, dan menceritakan apa yang terjadi selama Dirga pergi.
"gak usah! gue udah tau semuanya. ini pasti ulah Giri!"
"Giri?! Maksud lu apa hah?! ngungkit-ngungkit orang yang udah mati!" Hanif langsung berdiri dan menggenggam kerah Dirga.

Dirga menenangkan Hanif dan menjelaskan kepada semuanya, Giri tidak mati. Giri saat ini sedang ada di suatu tempat yang entah dimana.
kejadiaannya saat di rumah kosong itu, Tora terinfeksi virus yang dibawa oleh Giri. sehingga kepribadiannya menjadi berubah seperti ini dan kemampuannya meningkat drastis dalam perkelahian.
karena itulah Tora yang saat ini bukanlah Tora yang mereka kenal.

Sisi Lain 4 : Project of The Star

06.43 1


 * Tiga Tahun Kemudian *

"Gir, gimana rencananya?" tanya Dirga.
"Beres coy, dua bulan lagi kita pulang." Giri menjelaskan tanpa melihat ke arah Dirga dan tetap fokus dengan menulis rencananya.
"Ya kalo bisa sih dipercepat Gir, kayaknya Tora udah mulai hilang kesadaran. Syarif sama Hanif juga kayaknya udah ancur hidupnya."

Giri dan Dirga sedang membuat sebuah rencana. rencana yang didalamnya melibatkan ketiga sahabatnya, rencana yang akan mengubah kehidupan di dunia ini.
"Dopamine, Serotonin, Melatonin, Endorphin." Giri menulis rencana sambil mengomel dan berfikir.
"oke, kita ke laboratorium aja." lanjut Giri.

Mereka berdua melanjutkan rencana untuk mengubah dunia yang mereka namakan "Project of The Star" , di pulau yang jauh dari hiruk pikuk suasana kota dan jauh dari percekcokan pemerintah Negeri ini, mereka membuat sebuah mahakarya yang luar biasa yang mampu membawa Negeri ini, bahkan dunia ini ke dalam perubahan dan rencana yang mereka buat sendiri.

"Dir, saya masih bingung sama yang ini. bisa kau selesaikan bagian ini?"
"okeh." timpal Dirga.

Project of The Star adalah suatu obat-obatan yang memiliki efek psikologis yang mampu merubah kebiasaan atau tingkah laku si pengonsumsinya, obat ini dinamakan PoTS. namun tidak hanya itu, obat ini juga direncanakan akan dicampur dengan obat-obatan yang sering beredar di Apotik.

"selanjutnya, kita butuh Kelinci Percobaan." jelas Dirga.
"hmm.. gimana cara dapetinnya?" tanya Giri, "mungkin binatang dulu aja ya?" lanjut Giri.
"manusia dan binatang itu berbeda, aku ada rencana."
"gimana?"
"gimana kalo kita bikin poster atau iklan dicari relawan, dengan begitu kita gak maksa mereka buat jadi percobaan. dan sebagai gantinya, kita ngasih mereka hadiah berupa uang atau sejenisnya. oke, urusan ini serahkan padaku saja." jelas Dirga.

akhirnya mereka memulai kembali penelitian luar biasa yang mereka lakukan di usia muda. sungguh tidak masuk akal jika orang dewasa yang normal mengetahui hal ini, tapi mereka bukanlah orang normal. mereka adalah orang-orang jenius lagi luar biasa dalam banyak hal.

"oke, penelitian selesai. obatnya hanya bereaksi selama satu minggu, efek sampignya hanya pingsan sebentar dan setelah bangun mereka menjadi orang yang berbeda."
"cool Gir, butuh berapa lama lagi buat mengubah reaksi obatnya agar bertahan dalam waktu yang cukup lama?"
"hmm.. tapi kita gabisa pulang dalam waktu dekat, gimana?"
"tenang aja, kamu fokus sama penelitian ini sementara saya pulang dan ngeliat kondisi Tora, Syarif dan Hanif."

Giri hanya mengangguk dan melanjutkan penelitiannya, sementara Dirga bersiap untuk beres-beres dan pulang ke kampung halaman.

* To Be Continue *



Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis

Night In The School

16.24 1

By :  Puspita Zulviandari


Siang itu, cuaca begitu terik. Matahari memancarkan panasnya, dan membuat tubuhku penuh keringat. Padahal yang kukerjakan hanya duduk di pinggir lapangan basket. Menonton sahabatku, Johnny yang sedang asyik mendribble bola basket di tangannya dengan lincahnya. 
“Andrew!”tegur seseorang dari arah belakang. 
Aku mengenal suara itu, yap itu Liz teman masa kecilku. Jantungku berdegub kencang setiap bertemu dengannya, perasaan apakah ini? Aku pun tak tau. 
“Kau sendiri? Mana Johnny?”tanya Liz. 

“Sedang berlatih untuk turnamen besok.”jawabku. Jujur saja, aku tak begitu suka saat Liz hanya menanyakan tentang Johnny. Dia selalu perhatian pada Johnny. 
“Andrew!”sahut Johnny dari tengah lapangan. 
Ia memberi isyarat padaku, bahwa ia butuh minuman. Siang ini begitu terik, aku yang hanya duduk di pinggir lapangan saja sampai berkeringat dan membuatku haus. Apalagi Johnny yang sedang berlatih basket, permainan yang cukup menguras tenaga. 

“Aku lupa membawanya!”seruku. Johnny terlihat kecewa, namun Liz dengan sigap mengeluarkan botol minumannya untuk Johnny. 
“Ambil saja punyaku.”kata Liz. Johnny berlari menghampiri Liz, dan meminum minuman pemberian Liz. Ia minum sangat banyak, sepertinya ia memang benar-benar kehausan. 
“Terima kasih, Liz.”kata Johnny. 
Ia kembali ke lapangan dan berlatih. Aku hanya bisa memandang Johnny dengan tatapan kesal. Perasaan apakah ini? Apakah ini yang dinamakan kecemburuan?

Pak Will, Pembina kesiswaan di sekolah kami mengadakan rapat tentang festival sekolah. Kebetulan aku, Johnny dan Liz juga merupakan panitia festival. Di mana kami harus menyiapkan segala keperluan untuk festival sekolah. Acara ini sangat penting, diadakan tiap tahun di sekolahku. Akan ramai orang datang karena siswa-siswi di sekolah kami akan mengadakan bazaar produk buatan mereka dan juga pentas seni untuk menampilkan bakat-bakat mereka. 

Festival sekolah kami adalah festival sekolah terbaik di kota ini, sering menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pak Will membagi tugas untuk kami semua selaku panitia di dalam rapat tersebut, agar semua mendapat pekerjaan. 

“Ini akan menjadi hari yang cukup berat karena pekerjaan kalian banyak. Dan di hari sebelum festival, akan ada gladi bersih dan kalian akan bekerja hingga malam hari.”ujar Pak Will. 
“Wow, ini pasti akan menyenangkan.”kata Johnny. 
“Apanya yang menyenangkan? Pekerjaan kita banyak, pasti akan melelahkan.”bantahku sambil membetulkan letak kacamataku. 
“Sudahlah, kita nikmati saja pekerjaan ini. Menjadi panitia festival sekolah adalah suatu hal yang membanggakan.”nasehat Liz. 
Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku tak begitu berminat menjadi panitia festival. Namun demi bisa bekerja bersama dengan Liz, aku memutuskan untuk bergabung menjadi panitia.

Kami bekerja semaksimal mungkin untuk menyiapkan festival ini. Dany selaku ketua panitia, kerjaannya hanya mengamati pekerjaan kami apakah sudah benar atau belum. 
“Finn, harusnya dekorasi itu dipasang di sana. Bukan di sini.”katanya pada Finn yang sedang memasang dekorasi stand. Aku bertugas memasang stand-stand untuk bazaar. 

“Hati-hati dalam bekerja, pastikan semuanya terpasang dengan kuat.”kata Dany padaku. 
“Iya, iya, dasar cerewet.”kataku. Johnny dan Liz hanya tertawa melihat aku dan Dany. 

Saat istirahat aku mengobrol dengan Johnny, Liz pergi membeli makanan. 
“Kau suka dengan Liz?”tanya Johnny spontan. 
“Kau ini bicara apa? Tidak kok.”kilahku. 
“Kau bisa membohongiku, tapi kau tak bisa membohongi dirimu sendiri, Andrew.”kata Johnny. 
“Apa maksudmu? Aku tak berbohong.”ujarku. 

Johnny hanya tersenyum, dasar anak aneh. “Lagipula Liz suka padamu, mana mungkin aku menyukai Liz.”lanjutku. 
“Benarkah? Memang kau pernah menanyakan padanya, siapa lelaki yang ia sukai?”tanya Johnny. 
Aku hanya diam, kali ini aku tak bisa menjawab pertanyaan Johnny. 
“Berjuanglah sebelum terlambat.”pesan Johnny, sambil menepuk pundakku. 

“Makanan dataaang!”seru Liz sambil membawa tiga bungkus burger. 
“Burger lagi?”tanyaku. 
“Yah, hanya ada ini saja.”jawab Liz. 
“Kau tak suka burger?”tanya Johnny. 

“Aku tak diperbolehkan makan terlalu banyak Junkfood.”jawabku. 
“Memang junkfood, tapi tak apa daripada kelaparan. Makanlah dulu, lain aku akan mencari makanan lebih awal lagi.”janji Liz. 
Aku dan Johnny memakan burger itu dengan lahap. Seharian bekerja membuat kami lapar. 

“Besok kita harus lembur sampai malam.”kata Liz. 
“Aku jadi ingat, apa kalian pernah mendengar tentang misteri di sekolah ini?”tanya Johnny. 
“Tidak, aku tak percaya dengan bualan semacam itu.”jawabku acuh. 

“Wow, wow, kau itu benar-benar orang yang cuek. Kabarnya ini bukan sekedar issu belaka. Konon di tahun 1979, ada seorang siswa laki-laki yang kerap dibully oleh seniornya saat malam hari. Ia selalu pulang malam karena ia merupakan anggota klub jurnalis sekolah, ia bertugas sebagai editor artikel, sering ia lembur sampai malam hari karena ia tak punya komputer di rumahnya. Jadi ia memakai computer sekolah untuk mengerjakan tugasnya. Ia dianggap anak yang aneh oleh senior-seniornya dan dibully. Bukan hanya dimaki, namun ia sering mendapat kekerasan fisik. Tak ada yang mengetahui hal itu, sampai suatu hari siswa itu terjun dari lantai 3 gedung sekolah ini. Sebelum kematiannya, ia sempat menulis surat tentang dirinya yang menjadi korban bullying dan juga ia mengancam akan menghantui sekolah ini pada malam hari.”cerita Johnny panjang lebar. 

“Hentikan Johnny, kau membuatku takut.”kata Liz. 
“Tak perlu takut. Itu hanya gossip yang dibesar-besarkan.”kataku mencoba menenangkan Liz. Apa-apaan Johnny ini, ia membuat Liz takut dengan cerita bohongnya. 
“Sudah cukup ceritanya, sebaiknya kita melanjutkan pekerjaan kita masing-masing.”sambungku. 
Aku pun pergi meninggalkan mereka berdua dan melanjutkan pekerjaanku.

Esoknya, pekerjaan kami masih banyak. Capek sekali menyiapkan festival besar seperti ini. Tapi ini kulakukan demi Liz. Andai ia tahu perasaanku padanya. Kami juga menyiapkan gladi bersih untuk acara pentas seni, ada yang menampilkan drama, tarian, band, solo piano, dll. Mereka tampil memukau di gladi bersih kali ini. Aku yakin festival besok akan sukses. 

“Tapi aku tak mengada-ada soal cerita kemarin. Banyak yang mengaku melihat penampakan siswa itu di sekolah ini. Dan kabarnya senior yang membully siswa itu, semuanya sudah meninggal secara tragis. Kalau kau melewati bekas ruang computer yang kini telah kosong, kau akan mendengar suara ketikan padahal computer di ruangan itu telah disingkirkan dan ruangan itu tak lagi dipakai. Kabarnya hantu siswa itu bisa membunuh, jika ia diganggu. Lebih baik selama semalaman ini, kita tak usah pergi ke tempat-tempat dimana siswa itu sering dibully seperti di toilet dan di sekitar bekas ruang computer, juga lantai 3.”cerita Johnny. 

“Lalu apa yang kau lakukan bila kau ingin buang air? Kau akan buang air di luar agar para wanita dapat melihatmu?”tanyaku. Liz tertawa terpingkal-pingkal. 
“Ehm, ya mungkin di luar tetapi tetap kuusahakan tempatnya tersembunyi agar tidak ada yang melihat. “jawab Johnny. 
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, aku menganggap Johnny terlalu percaya pada takhayul dan gossip.

Malam harinya, aku dan Liz mengobrol berdua saat sedang istirahat. “Senang ya, kita bisa bersama-sama menyiapkan festival seperti ini. Aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Aku beruntung memiliki teman seperti kalian.”ujar Liz. 
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala menanggapi perkataan Liz. 

“Kau tau, Andrew?”tanya Liz.
 “Mm-hmm?” 
“Aku…, aku sudah lama menyukai Johnny.”kata Liz. Pernyataan Liz tak membuatku terkejut, aku sudah tahu dari perhatian yang selama ini ia berikan pada Johnny. 

“Aku sudah tahu itu.”kataku. 
“Benarkah itu, mmm… bisakah kau membantuku? Aku ingin bisa bersama dengan Johnny.”pinta Liz. 
Permintaannya sungguh berat bagiku, bagaimana tidak? Aku harus merelakan orang yang kucintai pergi bersama sahabatku sendiri. 

“Mmm, akan kuusahakan.”jawabku. 
“Sungguh? Terima kasih banyak, Andrew. Kau teman yang sangat baik. Aku berhutang padamu.”kata Liz senang. 
Aku merasa sedih, cemburu sekaligus kesal melihat reaksi Liz. Ia tak tau bahwa aku menyukainya. 

Aku pergi ke toilet untuk menenangkan diriku. Kubasuh mukaku dengan air dingin. Lalu aku memandang ke cermin di depanku. Aku melihat sosok berpakaian hitam di cermin itu. Aku menengok ke belakang, tak ada apapun. Aku lari sekuat tenaga menjauhi toilet siswa. Apakah cerita Johnny benar adanya? Apakah sosok tadi adalah hantu siswa itu? Ah, tak mungkin. Tadi itu pasti hanya halusinasiku. 

“Ada apa denganmu?”tanya Johnny. Aku menggeleng, nafasku masih tersengal-sengal. 
“Tadi kau dari mana?”tanya Johnny. 
“Toilet, di toilet itu ada seseorang.”jawabku. 
“Apa? Apakah ada penyusup? Atau jangan-jangan, ah… sebaiknya kita selidiki.”ajak Johnny. 
Aku menurut saja, aku dan Johnny pun pergi ke toilet siswa untuk memeriksanya. Johnny melangkah dengan hati-hati memeriksa toilet itu. 

Tiba-tiba sosok berpakaian hitam itu menusuk leher Johnny dengan pisaunya yang besar dan tajam. Darah mengucur deras, hingga mengenai wajahku. Melihat hal itu, sontak aku langsung berlari menjauh. Johnny, tidak! Aku tak sanggup melihatnya. Johnny adalah sahabat baikku, apa yang terjadi barusan membuatku sangat ketakutan. Apakah aku kehilangan Johnny, sahabat baikku itu? Tidak, ini tidak mungkin terjadi!

Aku terus berlari dan berlari, orang-orang melihatku dengan tatapan heran. Aku menemui Liz yang sedang bekerja mendekorasi panggung. 
“Liz! Johnny…”kataku panik, seraya memegang kedua pundak Liz. 
“Apa yang terjadi dengan Johnny. Wajahmu? Ada apa dengan wajahmu? Mengapa wajahmu berdarah? Kau terluka?”tanya Liz bertubi-tubi. 

Aku menggeleng, lalu tanganku menunjuk ke arah toilet. 
“Johnny ada di toilet?”tanyanya. 
Ia melangkah menuju toilet, aku mengikutinya dari belakang. 
Aku belum sanggup mengatakan apa yang terjadi. Jika Liz tahu, ia pasti akan sangat sedih. 

Tiba-tiba sosok berpakaian hitam itu muncul dan menikam Liz. Seketika Liz jatuh terjerembab, darah mengalir membasahi lantai ubin sekolah yang berwarna putih itu. 
“Liz, tidak! Jangan Liz! Jangan dia!”kataku. 
Aku berlari dan berlari namun aku merasa sosok berpakaian hitam itu terus mengikutiku kemanapun. 

“Berhenti mengikutiku!”pintaku padanya. Tenagaku mulai habis, aku mulai pasrah bila ia membunuhku. Pandanganku tertuju pada sebuah cermin besar. Di sana masih ada bayangan sosok berpakaian hitam itu. Aku mulai menyadari sesuatu. Lalu aku tersenyum puas, 
"Johnny, sudah kubilang kan? Tidak ada yang namanya hantu."kataku.

Diary Nirwan 3 : Mysterious Tragedy 2

18.44 0


"Decky, ngapain lu disitu?"
"oh, gue abis nyuruh khodam gue buat nyelidikin masalah ini," dia menunjukkan cincin batu alinya yang entah mungkin berisi khodam.
"lu diikutin makhluk itu?"
"nggak, gue cuma ngerasa ada keganjilan dalam peristiwa ini. jadi gue dateng kesini."

Decky menjelaskan panjang lebar apa yang dia tau tentang peristiwa yang aneh ini, gue cuma mendengarkan dia dengan baik.
karena gue dan Decky sama-sama belum mendapat petunjuk yang tepat, akhirnya kita berusaha memecahkan masalah ini bersama-sama.

Jakarta, 13 April 2008

hasil penyelidikan hari kemarin masih belum mendapatkan petunjuk yang memadai, hari ini kita kembali ke TKP untuk menyelidiki dan mencari petunjuk yang lebih memadai untuk dijadikan bukti yang kuat.
Decky terpaksa menggunakan khodamnya lagi meskipun staminanya sudah hampir habis. Pada akhirnya tidak menemukan petunjuk apapun.

Gue memutuskan buat memakai ritual terawangan dari warisan nenek moyang gue, berharap dapet petunjuk dari sini.
"Sepatu, mobil, darah," gue terus bergumam dalam hati agar fokus mencari ketiga petunjuk utama yang di jelaskan si arwah tersebut.

"Wan! Wan!" tiba-tiba Decky menyadarkan gue dari fokus yang sedang gue coba.
"kenapa Deck?"
"kita ada dimana?" Decky kebingungan sekaligus ketakutan.
"hah?" gue baru sadar ternyata ritual tersebut membawa gue dan decky langsung berpindah ke tempat dimana petunjuk itu ada.

"Deck, gausah takut. sekarang lu bantuin gue cari sepatu, mobil, sama darah."
"buat apaan?"
"gue dapet petunjuk langsung dari si arwah korban."
"yang bener lo?! wah lo udah berkembang wan, gue kira lu bakal terus-terusan cuek sama bakat lu yang ini. okedeh, gue bantu nyari."

3 jam, 5 jam, hampir 12 jam baru ketemu sepatu sama darah. gue masih bingung sama mobil, mobil itu maksudnya apa? gue berfikir sambil terus berusaha mendapatkan petunjuk.

Jakarta, 14 April 2008

hasil pencarian kemarin membuahkan dua petunjuk utama yang kita dapat, Decky memutuskan untuk menyerahkan ini semua ke gue dan dia akan kembali lagi setelah gue berhasil menemukan bukti yang ketiga yaitu mobil.

Gue kembali bekerja di kantor, sambil terus berfikir tentang petunjuk terakhir yaitu mobil. yang ada di kepala gue saat itu cuma mobil, mobil, dan mobil.
"koran.. yeah! koran." kemarin gue baca koran, dan ada gambar mobil si pelaku disitu jadi kemungkinan mobil yang dimaksud adalah mobil yang itu.

gue cari-cari koran edisi tanggal 11 April 2008, sulit untuk mencari koran-koran yang kemarin sudah dibaca.
"ketemu! yoho!" gue bahagia banget bisa nemuin petunjuk yang akan mengarah kepada bukti yang sangat kuat.

dengan begini, masalah akan selesai dan gue bisa dengan tenang kembali bekerja tanpa perlu memikirkan banyak hal lainnya.
"B 666 R" nomor platnya cukup aneh, mungkin plat buatan sendiri.

tiba-tiba makhluk yang mengikuti gue berbicara tanpa suara dengan posisi mulut seperti mengatakan "A A" gue mulai bingung, sepertinya ada petunjuk lain dibalik nama plat tersebut.

kira-kira apalagi ya, saat gue sudah selesai menemukan petunjuk. maka gue harus menyerahkan semua bukti ini kepada pihak yang berwajib, tapi sebelum itu gue harus memecahkan maksud dari kode plat ini.

*To Be Continued*


Sisi Lain 3 : What's Wrong?

15.58 0


Dirga pergi ke suatu tempat yang jauh, sementara ketiga temannya masih tetap berada di kampung tersebut.
"Giri enggak mati, harusnya dia udah nyampe di kota ini."
semua yang terjadi di rumah kosong tersebut ternyata hanyalah tipu daya Giri, mayat yang mirip Giri itu sebenarnya sudah disiapkan oleh pelayan Giri.

Giri dan Dirga adalah anak orang kaya, Ayah Giri merupakan CEO sekaligus pemilik Perusahaan besar di negara ini. Sedangkan Ayah Dirga merupakan Owner, pemilik restoran terlaris di negara ini yang jumlah restorannya sudah ada lebih dari 1000 tempat. sedangkan ketiga temannya yaitu Tora, Syarif, dan Hanif. Ayah mereka hanyalah Pegawai Negeri dan juga pedagang.

Ternate, Maluku Utara. Dirga sudah sampai ditempat ini, tempat Giri pergi.
"Lama gak ketemu, Dirga."
"apa kabar mu Gir?"
"cuma butuh waktu sebulan ya buat nemuin saya?"
"sebulan cukup lama lho."

Dirga dan Giri mengobrol dan bermain disepanjang pantai, mereka juga mengajak para warga disana khususnya anak-anak yang seumuran untuk ikut bermain dengan mereka.

sementara itu, dikampung halaman. Hanif dan Syarif mengunjungi rumah Tora, ternyata apa yang mereka lihat dari Tora selama ini hanyalah topeng. Tora menyiksa kedua orang tuanya sendiri, di hari libur kerja mereka.

"ngapain lo kesini hah?!" ekspresi Tora tersenyum licik seperti iblis, gaya bicaranya pun berubah.
Syarif dan Hanif ketakutan, dan cepat-cepat pergi dari rumah Tora.
"kalo kalian lapor ke warga, gue gak segan-segan buat manggang kalian jadi daging empuk hahaha."

tak ada lagi yang bisa dilakukan Syarif dan Hanif, tanpa Dirga mereka tidak tau harus berbuat apa. tanpa Dirga pula, Tora berubah menjadi seperti ini. padahal sebelumnya Tora bahkan muntah saat hanya melihat setetes darah, namun kini dia menjadi orang yang haus darah.

Tora adalah yang paling tinggi diantara mereka, Dirga paling standar dan Giri paling pendek. Tingginya Tora bahkan melebihi tinggi orang tuanya, karena itulah dia bisa menjadikan orang tuanya budak.

Syarif dan Hanif terus berpikir, merenung dan meratapi betapa bodohnya mereka tidak bisa menghentikan teman mereka dari berbuat jahat.
kemudian mereka teringat dengan kata-kata Dirga.
"untuk saat ini kita berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Pertemuan kita selanjutnya di Makam ini 6 tahun yang akan datang."

"nif, lu tau nggak alasan Dirga mengatakan itu." tanya Syarif.
"gue juga penasaran Rif."
"entah kenapa gue ngerasa kalo Dirga itu memberikan sesuatu kepada kita."
"sesuatu apa Rif?"
"mungkin Dirga ingin agar kita dapat menyikapi setiap masalah yang kita hadapi tanpa campur tangan dari dia."

mereka berdua terus mencari alasan kenapa Dirga memutuskan untuk pergi dari sini. bermain sambil berfikir, itulah yang mereka lakukan saat ini. mereka bermain Badminton sambil berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.

*To Be Continue* 


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis

Diary Nirwan 2 : Mysterious Tragedy

09.53 0


Jakarta, 10 April 2008

masalah dengan arwah si Rita sudah selesai, gue pun balik ke jakarta buat kerja seperti biasanya.
"broh, broh! bangun!" seorang teman membangunkan gue dari tidur gue yang cukup pulas itu.

gue emang suka tidur di kantor, karena terkadang gue insomnia dan hampir begadang tiap hari. meskipun setiap malem gue cuma nonton tv, nyari channel yang seru sambil nyeruput kopi. hidup itu simpel buat gue.

"niiirrrwaaann! niiirrrwaaann!" disaat gue sedang duduk santai bekerja, tiba-tiba sesosok makhluk muncul dari balik cermin sambil melambaikan tangannya dan menyebut nama gue.

"ebuset!" gue kaget dan keceplosan.
"kenape lo wan? kek orang abis liat setan aje kaget begitu." temen gue kebingungan.
"brohh, tolong bantuin kerjaan gue dong. gue mau pamit dulu bentar."

karena keadaan yang gak memungkinkan, dan fokus gue bisa buyar akhirnya gue memutuskan untuk pamit pulang.
sesampainya dirumah, ternyata bener makhluk tadi ngikutin gue sampe sini.

"ada apa gerangan mencari saya?" gue tanya baik-baik.
"seepaatuu.. moobiil.. daaraahh."
"maksudnya?"
"hiii hihihihi."

dia gak ngasih penjelasan apapun, cuma ngasih petunjuknya saja. entah kenapa, lagi-lagi gue harus berurusan dengan makhluk beginian.

Jakarta, 11 April 2008

makhluk yang kemarin masih terus mengikuti gue tanpa mengatakan apapun, entah mengapa gue jadi bingung sendiri.
gue tetep kerja seperti biasanya di kantor meskipun ekspresi wajah gue agak ketakutan dan kebingungan, tapi gue tetep bekerja untuk mengimbangi kebutuhan fisik juga.

gue merasa lelah, lalu di jam istirahat gue cuma duduk dikantor sambil memperhatikan layar monitor yang masih menyala.
gue ambil koran yang ada di meja temen gue, gue baca-baca koran untuk menghilangkan kejenuhan.

"kecelakaan lalu lintas tabrak lari di Manggarai."
gue langsung terkejut ketika gue baca judul artikel tersebut, setelah gue baca lebih detail lagi. makhluk itu tiba-tiba berbicara.

"moobiill.. moobiill.. mobil sialan! terkutuk! terkutuk!"
makhluk tersebut rupanya adalah korban tabrak lari, dan si pelakunya adalah anak dari salah satu pejabat berwewenang. dia baru belajar mengemudikan mobil dan tanpa sengaja dia menabrak orang yang sedang menyeberang hingga terpental sekitar satu setengah meter dari tempat mobil tersebut berhenti.

jika orang normal dan sehat-sehat saja, tidak mungkin sampai berujung kematian. gue merasa ada yang aneh dengan artikel berita ini, jika ini memang takdir ataupun jasad si korban sudah ditemukan lalu dikebumikan kenapa arwah si korban ini gentayangan.

Jakarta, 12 April 2008

gue langsung memutuskan untuk menyelidiki tempat kejadian perkara, hari ini hari sabtu jadi gue libur kerja.
gue berusaha untuk menanyakan orang-orang yang berlalu lalang, pedagang, bahkan tukang ojeg disekitar TKP.

namun, hampir semua orang mengatakan bahwa jasad dari korban tersebut sudah dipulangkan ke keluarganya dan dikebumikan.
gue nggak tau dan nggak bisa melihat kejadian yang terjadi di masa lalu atau masa depan, gue cuma sekedar bisa melihat arwah orang yang gentayangan dan jasadnya belum dikebumikan dengan layak.

kemampuan itu emang turun temurun dari keluarga gue, hanya kedua orang tua gue yang gak punya kemampuan tersebut, eyang atau kakek gue dan sesepuh dari keluarga kita hampir semuanya memiliki kemampuan ini.

gue terus berfikir sambil mengingat tentang masa lalu gue, gue adalah anak pertama dari 3 bersaudara. kedua adik gue perempuan dan masih bersekolah, adik yang paling tua sekolah SMA kelas 2 dan adik yang paling muda SMP kelas 3.

sulit untuk menjaga anak perempuan, apalagi dimasa labil seperti ini.
"bssst!" tiba-tiba sebuah bayangan melintas tepat didepan gue, cepat sekali seperti bukan manusia.

"siapa?"
"eh, Nirwan. ini gue Decky." dia muncul dari balik pohon tempat bayangan tersebut berhenti.

*see you next time* 


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita Misteri, Cerita Detektif, Cerita yang mengasah otak, Cerita yang Misterius