Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Serdadu Cinta 3 : New Activity

15.38 1


Setelah ngambil ijazah, gue berencana buat bekerja di sebuah perusahaan. namun nyokap gue nyuruh gue untuk ngambil kuliah aja, sebagai anak tentunya gue mempertimbangkan kata-kata nyokap gue yang menginginkan gue menjadi seorang yang berpendidikan tinggi.

sejujurnya gue nggak begitu peduli sama pendidikan atau kuliah. Namun, keinginan orang tua nggak bisa gue abaikan begitu saja. karena siapa tahu keinginan mereka dapat membawa nasib baik bagi hidup gue.
gue sadar selama ini gue udah sering nyakitin orang tua, udah sering bikin orang tua susah payah mencari nafkah demi menghidupi gue. karena itu, bagi gue kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan gue juga.

mereka mendaftarkan gue di sebuah universitas swasta di daerah sini, Arin juga lebih memilih kuliah dahulu untuk dapat memperbaiki nasib di masa depan nanti bersama gue.
gue sama Arin satu kampus, hanya berbeda jurusan. gue ngambil jurusan TI sementara Arin ngambil jurusan Psikologi.

setiap berangkat ngampus kita selalu bersama-sama. berbeda dengan pada saat SMA, kita memiliki banyak sahabat yang mendukung kita atau menemani kita. di kampus ini, kita hanya berdua karena sebagian besar mereka lebih memilih bekerja demi turut membantu keuangan keluarga. sebagian lainnya ada yang merantau jauh untuk belajar hidup mandiri.

"Hoi Med, apakabar?"
"baik, lo gimana fer? kemana aje lo?"
"gue kerja di daerah sono, nggak jauh-jauh amat sih dari kota ini."

Ferdi menghampiri gue dan Arin yang sedang berduaan di taman dekat kampus. seperti biasa, dia selalu menggembor-gemborkan hubungan gue sama Arin.
kita pun ngobrol bersama untuk waktu yang cukup lama, hingga Ferdi pamit pulang dan melanjutkan pekerjaannya disana.

"sayang~ aku mau pergi sama temen-temenku dulu ya."
"pergi kemana? aku anterin."
"engga usah, mereka ada di toko depan sana. dah yaa, bay bay."

Arin melambaikan tangannya, meninggalkan gue yang duduk sendirian bersama Supra X kesayangan gue.
gue enggak begitu peduli, mungkin dia pergi sama temen-temen cewek nya yang baru kenal di kampus. jadi, gue memutuskan untuk pulang sendirian dan bermain game di rumah.

'ngring ngring' hape gue berbunyi tanda ada panggilan masuk.
"halo sayang~"
"maaf ini bukan Arin, ini gue cowoknya."

seketika, hati gue langsung panas. gue langsung emosi dan memuncak. selama ini gue nggak pernah ngusik urusan pribadi Arin, selama ini gue mempercayai dia. tapi ternyata dibelakang gue dia diam-diam berhubungan sama cowok lain.
tanpa meminta penjelasan, gue langsung tutup telponnya dan langsung on the way mencari Arin.

sesampainya disebuah restoran, gue melihat Arin sedang makan bersama seorang cowok yang nggak gue kenal. gue langsung menghampiri mereka, dan 'bugh!' gue langsung mukul cowok itu.
"woi?! jawab gue?! sejak kapan lo pacaran sama Arin hah?!"

'bugh!' gue kena pukul dibagian pipi kiri.
"udah-udah medi!"
"lo manggil gue medi?! mana panggilan sayangnya hah?!"

Arin langsung narik cowok itu dan berlalu pergi bersamanya. gue ngejar, tapi ditahan sama penjaga restoran tersebut.

*Bersambung*

Sisi Lain 5 : The First Person Infected

12.40 0


"halo, nama saya Toni. hmm.. anu, eng.."
"tak usah difikirkan, semuanya sudah disiapkan."

Dirga sudah mendapatkan calon relawan sesampainya di Pulau Jawa, meski baru beberapa orang tapi lebih dari cukup untuk sekedar percobaan.
"anda bersedia mengorbankan hidup anda demi uang?"
"ya, ya.. ehm.. saya bersedia. saya siap."
"alasan anda?"
"saya ingin membantu perekonomian keluarga saya."

sejujurnya Dirga merasa tidak enak dengan cara yang seperti ini, tapi Dirga yakin bahwa penelitiannya tidak ada kegagalan.

"Dirga! itu Dirga! hei semuanya! Dirga sudah kembali!" sorak Hanif.
"hai semuanya."
"kemana aja kamu dir? kita semua disini kehilangan kamu lho."
"ada deh."

disambut hangat oleh orang-orang di kampung halaman adalah hal yang tidak pernah dia rasakan, karena selama ini dia hanya mengabdikan hidupnya untuk belajar, belajar, dan belajar.

"eh, Giri mana?" hanya Syarif yang sedari tadi melihat Dirga dengan penuh kebingungan.
"eh iya, Giri mana?" Hanif pun mengikuti.
"maap semuanya, saya belum nemu Giri."

Dirga berbohong dengan ekspresi sedih. semuanya berkumpul dan mengadakan makan besar untuk menyambut kedatangan Dirga.
disela-sela pesta makan-makan, tiba-tiba seseorang muncul. menggunakan setelan metal, dan rambut punk yang di cat kuning kehijau-hijauan.

"woi! jatah gue mana!" 'brak!' Tora menggebrak
'buk!' Dirga langsung memukul Tora tanpa ragu-ragu, menendangnya, dan terus memukulinya hingga Tora menyerah dan meminta maaf.
orang-orang disekitar ingin menghentikan Dirga namun tak ada yang sanggup.

"Tora! elo dimana! jawab gue!!" Dirga berteriak didepan muka Tora yang sikapnya berubah drastis itu, menggenggam kerahnya dan menggoyang-goyangkannya dengan keras.
'brag!' tiba-tiba Tora yang lain itu menendang Dirga yang sedang mencengkeramnya.
"gue bukan Tora! Tora udah mati! gue Deni!"

akhirnya orang-orang memutuskan untuk menenangkan mereka berdua, dan menceritakan apa yang terjadi selama Dirga pergi.
"gak usah! gue udah tau semuanya. ini pasti ulah Giri!"
"Giri?! Maksud lu apa hah?! ngungkit-ngungkit orang yang udah mati!" Hanif langsung berdiri dan menggenggam kerah Dirga.

Dirga menenangkan Hanif dan menjelaskan kepada semuanya, Giri tidak mati. Giri saat ini sedang ada di suatu tempat yang entah dimana.
kejadiaannya saat di rumah kosong itu, Tora terinfeksi virus yang dibawa oleh Giri. sehingga kepribadiannya menjadi berubah seperti ini dan kemampuannya meningkat drastis dalam perkelahian.
karena itulah Tora yang saat ini bukanlah Tora yang mereka kenal.

[Cerpen] The Last Present

19.16 1
http://google.com/imghp


Tak pernah terbayang olehku, perjuangan seorang ayah yang selalu membimbingku sejak aku kecil.
dia yang mengasuhku, membesarkanku, mendidikku menjadi pribadi yang mampu memberi kepada sesama.

"pak, minta sumbangannya pak. saya belum makan tiga hari pak."
seseorang dengan baju kumuh, compang-camping, dan dekil menghampiri ayahku dan menyodorkan tangannya seperti mengharap sesuatu.

ayah yang sedang melamun di dalam becaknya, berdiri dan merogoh sesuatu dari saku. kemudian memberikannya kepada orang itu.

"yah, kenapa kita harus memberi uang kepada yang miskin? sedangkan kita juga termasuk orang-orang miskin?"
"siapa yang mengatakan itu?"
"teman-temanku." aku menunduk, mengingat semua kata-kata yang mereka lontarkan kepadaku. kata-kata mereka yang menghina profesi ayahku.

ayah mengelus kepalaku, membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu. "kita memang miskin nak, tapi diluar sana. masih ada orang yang jauh lebih miskin daripada kita."

aku hanya mengangguk meskipun aku tidak setuju.
"kelak kau akan mengerti saat kau dewasa nanti. jika ada orang yang lebih membutuhkan atau meminta bantuan, bantulah dia semampu kita. jika kita sudah berusaha tetapi tidak mampu, meminta maaflah."

kemudian keesokan harinya, pengemis itu datang lagi kepada ayahku. ayah memberikan dia uang secukupnya.
keesokan harinya, ia datang lagi. hampir setiap hari ia datang menemui ayah, padahal aku tahu ayah juga membutuhkan uang. tapi ayah selalu memberikannya kepada pengemis itu.

sepulang bekerja, ayah tidak pernah makan. ayah selalu menyiapkan makanan untukku, tapi tidak untuk dirinya.
"ayah sedang tidak lapar nak, makanlah. makan yang banyak agar kau cepat tumbuh."
seringkali ia mengatakan hal itu, membuatku merasa bahwa dunia ini tidaklah adil.

Ibu sudah tiada sejak kelahiranku, aku hanya tinggal bersama ayah. aku tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ibu, yang kutahu hanyalah bagaimana rasanya hidup bersama ayah.

hingga suatu hari, saat umurku yang ke delapan belas. ayahku jatuh sakit, aku mengobati dia semampuku. namun itu tak cukup, penyakit ayah semakin parah. bahkan sampai muntah darah.

"yah, kemarilah. kita ke dokter sekarang juga."
"tidak nak, sudah cukup. jika kita ke dokter, maka kamu tak bisa makan. sudahlah, nanti juga penyakit ayah hilang sendiri."
"tidak yah, kita harus ke dokter sekarang juga."

aku menggendong ayah, menaruhnya didalam becak. ku kayuh becak sekuat tenaga, demi mengantarkan ayah ke dokter dan berharap ia dapat segera sembuh.

"maaf dek, kami tidak bisa melakukan pemeriksaan sebelum adek melunasi biaya administrasinya."
begitulah yang dikatakan dokter, tak ingin putus asa. aku menaruh ayah kedalam becak dan mengayuh becak sekuat tenaga, mencari dokter lain yang bersedia memeriksa penyakit ayahku.

diperjalanan, ayah mulai terlihat lemah, letih, dan tertidur. aku berhenti sejenak untuk melihat kondisi ayahku, seluruh tubuhnya sangat panas. nafasnya semakin melemah, detak jantungnya semakin pelan.

"yah, jangan pergi! jangan pergi ayah! ayah! ayah bangun yah!" aku menggoyang-goyangkan tubuh ayah, dan tanpa kusadari air mata mengalir di pipiku.

ku letakkan ibu jari untuk mengecek denyut nadi ayah, semakin melemah dan semakin hilang.
aku putus asa, ku kayuh becak menuju rumah kami yang kumuh dan tak terawat. ku letakkan ayah ditempat tidurnya, semua tetangga menghampiri dan turut berbela sungkawa atas kematian ayah.

air mata ini tak henti-hentinya mengalir, hingga proses pemakaman ayah pun berlangsung.
disaat semua orang pergi, aku hanya sendirian. memeluk batu nisan sang pahlawan, pahlawan yang telah mengabdikan seluruh perjuangannya untuk menghidupi anaknya seorang diri.

tiba-tiba seseorang menghampiri, memakai pakaian formal dan jas hitam. ia ingin menyampaikan sesuatu padaku.
"dek, ini adalah hadiah terakhir dari ayahmu. dulu ayahmu selalu memberiku uang untuk makan, hari demi hari. hingga aku bisa membeli makan sendiri. ini adalah hadiah terakhir yang dititipkan ayahmu kepadaku."

kubuka kado yang diberikan seseorang tersebut, hanya ada sepucuk kertas didalamnya. bertuliskan surat wasiat dan surat yang ditulis tangan oleh ayahku sendiri.

"nak, ayah minta maaf jika selama ini ayah tidak bisa menyekolahkanmu dengan layak. ayah tau ayah miskin, ayah sadar bahwa ayah tidak pantas menjadi orang tuamu. ini adalah hadiah terakhir dari ayah, jangan pernah meremehkan siapapun. termasuk orang yang ada di depanmu, karena dialah yang akan menjadi orang tua baru untukmu."

* Selesai * 



Sisi Lain 4 : Project of The Star

06.43 1


 * Tiga Tahun Kemudian *

"Gir, gimana rencananya?" tanya Dirga.
"Beres coy, dua bulan lagi kita pulang." Giri menjelaskan tanpa melihat ke arah Dirga dan tetap fokus dengan menulis rencananya.
"Ya kalo bisa sih dipercepat Gir, kayaknya Tora udah mulai hilang kesadaran. Syarif sama Hanif juga kayaknya udah ancur hidupnya."

Giri dan Dirga sedang membuat sebuah rencana. rencana yang didalamnya melibatkan ketiga sahabatnya, rencana yang akan mengubah kehidupan di dunia ini.
"Dopamine, Serotonin, Melatonin, Endorphin." Giri menulis rencana sambil mengomel dan berfikir.
"oke, kita ke laboratorium aja." lanjut Giri.

Mereka berdua melanjutkan rencana untuk mengubah dunia yang mereka namakan "Project of The Star" , di pulau yang jauh dari hiruk pikuk suasana kota dan jauh dari percekcokan pemerintah Negeri ini, mereka membuat sebuah mahakarya yang luar biasa yang mampu membawa Negeri ini, bahkan dunia ini ke dalam perubahan dan rencana yang mereka buat sendiri.

"Dir, saya masih bingung sama yang ini. bisa kau selesaikan bagian ini?"
"okeh." timpal Dirga.

Project of The Star adalah suatu obat-obatan yang memiliki efek psikologis yang mampu merubah kebiasaan atau tingkah laku si pengonsumsinya, obat ini dinamakan PoTS. namun tidak hanya itu, obat ini juga direncanakan akan dicampur dengan obat-obatan yang sering beredar di Apotik.

"selanjutnya, kita butuh Kelinci Percobaan." jelas Dirga.
"hmm.. gimana cara dapetinnya?" tanya Giri, "mungkin binatang dulu aja ya?" lanjut Giri.
"manusia dan binatang itu berbeda, aku ada rencana."
"gimana?"
"gimana kalo kita bikin poster atau iklan dicari relawan, dengan begitu kita gak maksa mereka buat jadi percobaan. dan sebagai gantinya, kita ngasih mereka hadiah berupa uang atau sejenisnya. oke, urusan ini serahkan padaku saja." jelas Dirga.

akhirnya mereka memulai kembali penelitian luar biasa yang mereka lakukan di usia muda. sungguh tidak masuk akal jika orang dewasa yang normal mengetahui hal ini, tapi mereka bukanlah orang normal. mereka adalah orang-orang jenius lagi luar biasa dalam banyak hal.

"oke, penelitian selesai. obatnya hanya bereaksi selama satu minggu, efek sampignya hanya pingsan sebentar dan setelah bangun mereka menjadi orang yang berbeda."
"cool Gir, butuh berapa lama lagi buat mengubah reaksi obatnya agar bertahan dalam waktu yang cukup lama?"
"hmm.. tapi kita gabisa pulang dalam waktu dekat, gimana?"
"tenang aja, kamu fokus sama penelitian ini sementara saya pulang dan ngeliat kondisi Tora, Syarif dan Hanif."

Giri hanya mengangguk dan melanjutkan penelitiannya, sementara Dirga bersiap untuk beres-beres dan pulang ke kampung halaman.

* To Be Continue *



Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita tentang persahabatan, Cerita tentang Pertemanan, Cerita tentang kehidupan, Cerita tentang orang jenius, Cerita Dramatis

Serdadu Cinta 2 : Seventeen Days

06.00 1


Hari itu kita semua ke pantai, di pantai itu kita bercanda, tertawa, bermain pasir bersama-sama hingga senja tiba.
gue sama Arin duduk di sebuah tikar yang memang sudah dibawa dari rumah sebagai salah satu alat pendukung acara ini.

"Happy Birthday, Sayang." gue melemparkan senyum termanis gue, gue tatap mata Arin yang berkilauan, dan tiba-tiba dia memeluk gue dengan eratnya.
"tunggu dulu, ini belum selesai. Oi bocah-bocah kampret, sini ngumpul." gue berteriak memanggil mereka semua para sahabat gue.

Ferdi membawa kue ulang tahun yang sudah gue siapkan sebelum bertemu Arin di hari ini.
"Happy birthday to you! happy birthday to you! happy birthday! happy birthday! happy birthday to you!" semuanya bernyanyi sambil tepuk tangan.
"tiup lilinnya! tiup lilinnya! tiup lilinnya sekaraang juuga! seekaraang juuga."

"fyuhh!" Arin meniup lilinnya dan "horee!" semuanya bertepuk tangan dengan meriah.
Arin menangis bahagia, memeluk gue dengan erat untuk menutupi rasa malunya.

"Makasih ya sayang, udah jadi pacar yang terbaik buat aku." Arin melemparkan senyum hangatnya ke gue dan gue tersipu malu.
"ng.. anu.. ng.. nggapapa kok, btw.. Thanks atas perhatianmu selama ini, aku bisa berdiri disini dengan semangat, aku bisa mendapat peringkat nomer satu disekolah, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga dan teman-teman. semuanya berkat kamu, karena ada kamu disisiku."

"ciaa elaa.. Medi so sweet deh, yaudah yok kita mulai potong kuenya." Ferdi menyoraki gue diikuti dengan yang lainnya.
"Potong kuenya! potong kuenya! potong kuenya sekaraang juuga! seekaraang juugaa!"

acara yang sedaritadi ditunggu bocah-bocah pun dimulai, yaitu acara makan-makan bolu.
gue sama Arin hanya tertawa geli melihat tingkah laku mereka yang memang seperti bocah-bocah, mungkin karena yang ada di otak mereka cuma makanan doang.

"this is your seventeen days baby, aku minta maaf kalo sebelumnya aku cuek sama kamu. aku cuma pengen rencana ini berjalan perfect, hehe."
"ahh.. udahlahh, aku jadi maluu tauu." Arin cemberut dan memukul pundak gue dengan manja.

semuanya terasa indah didampingin background matahari senja yang mulai tenggelam, kami pun berfoto ria untuk mengukir kenangan di hari ini yang merupakan kenangan terindah yang selama ini belum pernah gue miliki.

sampai pada akhir acara, menjelang maghrib kita semua pulang ke rumah. Gue sama Arin pastinya, dan diperjalanan itu Arin hanya diam dan memandang langit, gue gak tau apa yang ada di fikiran Arin saat itu.
sesampainya di rumah Arin, gue langsung pamit pulang karena udah maghrib.

*To Be Continued*


 

Diary Nirwan 3 : Mysterious Tragedy 2

18.44 0


"Decky, ngapain lu disitu?"
"oh, gue abis nyuruh khodam gue buat nyelidikin masalah ini," dia menunjukkan cincin batu alinya yang entah mungkin berisi khodam.
"lu diikutin makhluk itu?"
"nggak, gue cuma ngerasa ada keganjilan dalam peristiwa ini. jadi gue dateng kesini."

Decky menjelaskan panjang lebar apa yang dia tau tentang peristiwa yang aneh ini, gue cuma mendengarkan dia dengan baik.
karena gue dan Decky sama-sama belum mendapat petunjuk yang tepat, akhirnya kita berusaha memecahkan masalah ini bersama-sama.

Jakarta, 13 April 2008

hasil penyelidikan hari kemarin masih belum mendapatkan petunjuk yang memadai, hari ini kita kembali ke TKP untuk menyelidiki dan mencari petunjuk yang lebih memadai untuk dijadikan bukti yang kuat.
Decky terpaksa menggunakan khodamnya lagi meskipun staminanya sudah hampir habis. Pada akhirnya tidak menemukan petunjuk apapun.

Gue memutuskan buat memakai ritual terawangan dari warisan nenek moyang gue, berharap dapet petunjuk dari sini.
"Sepatu, mobil, darah," gue terus bergumam dalam hati agar fokus mencari ketiga petunjuk utama yang di jelaskan si arwah tersebut.

"Wan! Wan!" tiba-tiba Decky menyadarkan gue dari fokus yang sedang gue coba.
"kenapa Deck?"
"kita ada dimana?" Decky kebingungan sekaligus ketakutan.
"hah?" gue baru sadar ternyata ritual tersebut membawa gue dan decky langsung berpindah ke tempat dimana petunjuk itu ada.

"Deck, gausah takut. sekarang lu bantuin gue cari sepatu, mobil, sama darah."
"buat apaan?"
"gue dapet petunjuk langsung dari si arwah korban."
"yang bener lo?! wah lo udah berkembang wan, gue kira lu bakal terus-terusan cuek sama bakat lu yang ini. okedeh, gue bantu nyari."

3 jam, 5 jam, hampir 12 jam baru ketemu sepatu sama darah. gue masih bingung sama mobil, mobil itu maksudnya apa? gue berfikir sambil terus berusaha mendapatkan petunjuk.

Jakarta, 14 April 2008

hasil pencarian kemarin membuahkan dua petunjuk utama yang kita dapat, Decky memutuskan untuk menyerahkan ini semua ke gue dan dia akan kembali lagi setelah gue berhasil menemukan bukti yang ketiga yaitu mobil.

Gue kembali bekerja di kantor, sambil terus berfikir tentang petunjuk terakhir yaitu mobil. yang ada di kepala gue saat itu cuma mobil, mobil, dan mobil.
"koran.. yeah! koran." kemarin gue baca koran, dan ada gambar mobil si pelaku disitu jadi kemungkinan mobil yang dimaksud adalah mobil yang itu.

gue cari-cari koran edisi tanggal 11 April 2008, sulit untuk mencari koran-koran yang kemarin sudah dibaca.
"ketemu! yoho!" gue bahagia banget bisa nemuin petunjuk yang akan mengarah kepada bukti yang sangat kuat.

dengan begini, masalah akan selesai dan gue bisa dengan tenang kembali bekerja tanpa perlu memikirkan banyak hal lainnya.
"B 666 R" nomor platnya cukup aneh, mungkin plat buatan sendiri.

tiba-tiba makhluk yang mengikuti gue berbicara tanpa suara dengan posisi mulut seperti mengatakan "A A" gue mulai bingung, sepertinya ada petunjuk lain dibalik nama plat tersebut.

kira-kira apalagi ya, saat gue sudah selesai menemukan petunjuk. maka gue harus menyerahkan semua bukti ini kepada pihak yang berwajib, tapi sebelum itu gue harus memecahkan maksud dari kode plat ini.

*To Be Continued*