Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Serdadu Cinta 3 : New Activity

15.38 1


Setelah ngambil ijazah, gue berencana buat bekerja di sebuah perusahaan. namun nyokap gue nyuruh gue untuk ngambil kuliah aja, sebagai anak tentunya gue mempertimbangkan kata-kata nyokap gue yang menginginkan gue menjadi seorang yang berpendidikan tinggi.

sejujurnya gue nggak begitu peduli sama pendidikan atau kuliah. Namun, keinginan orang tua nggak bisa gue abaikan begitu saja. karena siapa tahu keinginan mereka dapat membawa nasib baik bagi hidup gue.
gue sadar selama ini gue udah sering nyakitin orang tua, udah sering bikin orang tua susah payah mencari nafkah demi menghidupi gue. karena itu, bagi gue kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan gue juga.

mereka mendaftarkan gue di sebuah universitas swasta di daerah sini, Arin juga lebih memilih kuliah dahulu untuk dapat memperbaiki nasib di masa depan nanti bersama gue.
gue sama Arin satu kampus, hanya berbeda jurusan. gue ngambil jurusan TI sementara Arin ngambil jurusan Psikologi.

setiap berangkat ngampus kita selalu bersama-sama. berbeda dengan pada saat SMA, kita memiliki banyak sahabat yang mendukung kita atau menemani kita. di kampus ini, kita hanya berdua karena sebagian besar mereka lebih memilih bekerja demi turut membantu keuangan keluarga. sebagian lainnya ada yang merantau jauh untuk belajar hidup mandiri.

"Hoi Med, apakabar?"
"baik, lo gimana fer? kemana aje lo?"
"gue kerja di daerah sono, nggak jauh-jauh amat sih dari kota ini."

Ferdi menghampiri gue dan Arin yang sedang berduaan di taman dekat kampus. seperti biasa, dia selalu menggembor-gemborkan hubungan gue sama Arin.
kita pun ngobrol bersama untuk waktu yang cukup lama, hingga Ferdi pamit pulang dan melanjutkan pekerjaannya disana.

"sayang~ aku mau pergi sama temen-temenku dulu ya."
"pergi kemana? aku anterin."
"engga usah, mereka ada di toko depan sana. dah yaa, bay bay."

Arin melambaikan tangannya, meninggalkan gue yang duduk sendirian bersama Supra X kesayangan gue.
gue enggak begitu peduli, mungkin dia pergi sama temen-temen cewek nya yang baru kenal di kampus. jadi, gue memutuskan untuk pulang sendirian dan bermain game di rumah.

'ngring ngring' hape gue berbunyi tanda ada panggilan masuk.
"halo sayang~"
"maaf ini bukan Arin, ini gue cowoknya."

seketika, hati gue langsung panas. gue langsung emosi dan memuncak. selama ini gue nggak pernah ngusik urusan pribadi Arin, selama ini gue mempercayai dia. tapi ternyata dibelakang gue dia diam-diam berhubungan sama cowok lain.
tanpa meminta penjelasan, gue langsung tutup telponnya dan langsung on the way mencari Arin.

sesampainya disebuah restoran, gue melihat Arin sedang makan bersama seorang cowok yang nggak gue kenal. gue langsung menghampiri mereka, dan 'bugh!' gue langsung mukul cowok itu.
"woi?! jawab gue?! sejak kapan lo pacaran sama Arin hah?!"

'bugh!' gue kena pukul dibagian pipi kiri.
"udah-udah medi!"
"lo manggil gue medi?! mana panggilan sayangnya hah?!"

Arin langsung narik cowok itu dan berlalu pergi bersamanya. gue ngejar, tapi ditahan sama penjaga restoran tersebut.

*Bersambung*

Serdadu Cinta 2 : Seventeen Days

06.00 1


Hari itu kita semua ke pantai, di pantai itu kita bercanda, tertawa, bermain pasir bersama-sama hingga senja tiba.
gue sama Arin duduk di sebuah tikar yang memang sudah dibawa dari rumah sebagai salah satu alat pendukung acara ini.

"Happy Birthday, Sayang." gue melemparkan senyum termanis gue, gue tatap mata Arin yang berkilauan, dan tiba-tiba dia memeluk gue dengan eratnya.
"tunggu dulu, ini belum selesai. Oi bocah-bocah kampret, sini ngumpul." gue berteriak memanggil mereka semua para sahabat gue.

Ferdi membawa kue ulang tahun yang sudah gue siapkan sebelum bertemu Arin di hari ini.
"Happy birthday to you! happy birthday to you! happy birthday! happy birthday! happy birthday to you!" semuanya bernyanyi sambil tepuk tangan.
"tiup lilinnya! tiup lilinnya! tiup lilinnya sekaraang juuga! seekaraang juuga."

"fyuhh!" Arin meniup lilinnya dan "horee!" semuanya bertepuk tangan dengan meriah.
Arin menangis bahagia, memeluk gue dengan erat untuk menutupi rasa malunya.

"Makasih ya sayang, udah jadi pacar yang terbaik buat aku." Arin melemparkan senyum hangatnya ke gue dan gue tersipu malu.
"ng.. anu.. ng.. nggapapa kok, btw.. Thanks atas perhatianmu selama ini, aku bisa berdiri disini dengan semangat, aku bisa mendapat peringkat nomer satu disekolah, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga dan teman-teman. semuanya berkat kamu, karena ada kamu disisiku."

"ciaa elaa.. Medi so sweet deh, yaudah yok kita mulai potong kuenya." Ferdi menyoraki gue diikuti dengan yang lainnya.
"Potong kuenya! potong kuenya! potong kuenya sekaraang juuga! seekaraang juugaa!"

acara yang sedaritadi ditunggu bocah-bocah pun dimulai, yaitu acara makan-makan bolu.
gue sama Arin hanya tertawa geli melihat tingkah laku mereka yang memang seperti bocah-bocah, mungkin karena yang ada di otak mereka cuma makanan doang.

"this is your seventeen days baby, aku minta maaf kalo sebelumnya aku cuek sama kamu. aku cuma pengen rencana ini berjalan perfect, hehe."
"ahh.. udahlahh, aku jadi maluu tauu." Arin cemberut dan memukul pundak gue dengan manja.

semuanya terasa indah didampingin background matahari senja yang mulai tenggelam, kami pun berfoto ria untuk mengukir kenangan di hari ini yang merupakan kenangan terindah yang selama ini belum pernah gue miliki.

sampai pada akhir acara, menjelang maghrib kita semua pulang ke rumah. Gue sama Arin pastinya, dan diperjalanan itu Arin hanya diam dan memandang langit, gue gak tau apa yang ada di fikiran Arin saat itu.
sesampainya di rumah Arin, gue langsung pamit pulang karena udah maghrib.

*To Be Continued*


 

Diary Nirwan 3 : Mysterious Tragedy 2

18.44 0


"Decky, ngapain lu disitu?"
"oh, gue abis nyuruh khodam gue buat nyelidikin masalah ini," dia menunjukkan cincin batu alinya yang entah mungkin berisi khodam.
"lu diikutin makhluk itu?"
"nggak, gue cuma ngerasa ada keganjilan dalam peristiwa ini. jadi gue dateng kesini."

Decky menjelaskan panjang lebar apa yang dia tau tentang peristiwa yang aneh ini, gue cuma mendengarkan dia dengan baik.
karena gue dan Decky sama-sama belum mendapat petunjuk yang tepat, akhirnya kita berusaha memecahkan masalah ini bersama-sama.

Jakarta, 13 April 2008

hasil penyelidikan hari kemarin masih belum mendapatkan petunjuk yang memadai, hari ini kita kembali ke TKP untuk menyelidiki dan mencari petunjuk yang lebih memadai untuk dijadikan bukti yang kuat.
Decky terpaksa menggunakan khodamnya lagi meskipun staminanya sudah hampir habis. Pada akhirnya tidak menemukan petunjuk apapun.

Gue memutuskan buat memakai ritual terawangan dari warisan nenek moyang gue, berharap dapet petunjuk dari sini.
"Sepatu, mobil, darah," gue terus bergumam dalam hati agar fokus mencari ketiga petunjuk utama yang di jelaskan si arwah tersebut.

"Wan! Wan!" tiba-tiba Decky menyadarkan gue dari fokus yang sedang gue coba.
"kenapa Deck?"
"kita ada dimana?" Decky kebingungan sekaligus ketakutan.
"hah?" gue baru sadar ternyata ritual tersebut membawa gue dan decky langsung berpindah ke tempat dimana petunjuk itu ada.

"Deck, gausah takut. sekarang lu bantuin gue cari sepatu, mobil, sama darah."
"buat apaan?"
"gue dapet petunjuk langsung dari si arwah korban."
"yang bener lo?! wah lo udah berkembang wan, gue kira lu bakal terus-terusan cuek sama bakat lu yang ini. okedeh, gue bantu nyari."

3 jam, 5 jam, hampir 12 jam baru ketemu sepatu sama darah. gue masih bingung sama mobil, mobil itu maksudnya apa? gue berfikir sambil terus berusaha mendapatkan petunjuk.

Jakarta, 14 April 2008

hasil pencarian kemarin membuahkan dua petunjuk utama yang kita dapat, Decky memutuskan untuk menyerahkan ini semua ke gue dan dia akan kembali lagi setelah gue berhasil menemukan bukti yang ketiga yaitu mobil.

Gue kembali bekerja di kantor, sambil terus berfikir tentang petunjuk terakhir yaitu mobil. yang ada di kepala gue saat itu cuma mobil, mobil, dan mobil.
"koran.. yeah! koran." kemarin gue baca koran, dan ada gambar mobil si pelaku disitu jadi kemungkinan mobil yang dimaksud adalah mobil yang itu.

gue cari-cari koran edisi tanggal 11 April 2008, sulit untuk mencari koran-koran yang kemarin sudah dibaca.
"ketemu! yoho!" gue bahagia banget bisa nemuin petunjuk yang akan mengarah kepada bukti yang sangat kuat.

dengan begini, masalah akan selesai dan gue bisa dengan tenang kembali bekerja tanpa perlu memikirkan banyak hal lainnya.
"B 666 R" nomor platnya cukup aneh, mungkin plat buatan sendiri.

tiba-tiba makhluk yang mengikuti gue berbicara tanpa suara dengan posisi mulut seperti mengatakan "A A" gue mulai bingung, sepertinya ada petunjuk lain dibalik nama plat tersebut.

kira-kira apalagi ya, saat gue sudah selesai menemukan petunjuk. maka gue harus menyerahkan semua bukti ini kepada pihak yang berwajib, tapi sebelum itu gue harus memecahkan maksud dari kode plat ini.

*To Be Continued*


Serdadu Cinta : My Girlfriend

16.22 0


gue Medi, nama panjang gue Mediterania. serius, gue juga nggak tau kenapa orang tua gue ngasih nama gue Mediterania, mungkin mereka punya kenangan tertentu yang gak bisa lepas dari Mediterania.

Pagi itu,
"Med! bangun! woy Med!" emak gue menggoyang-goyangkan tubuh gue yang masih ABG ini.
"huahhh, iye mak. masih pagi ini ah." gue ngucek-ngucek mata sambil menunjukkan ekspresi cemberut.
"ntu ada si Arin dateng kemarih."
"ha?! Arin?! wokeh ma wokeh!" gue mendadak semangat bangun dan langsung beres-beres.

Arin adalah pacar gue, sekaligus temen masa kecil gue. sejak kecil kami selalu bermain bersama, di halaman rumah gue yang cukup luas. namun, itu semua tak bertahan lama. di masa SMP, gue sama Arin mulai agak jaga jarak dan canggung.
Jujur saja, gue naksir Arin yang masih SMP. dia terlihat semakin cantik, tak seperti Arin yang waktu SD yang tak kenal dengan penampilan dan alakadarnya saja.

Hari ini adalah hari dimana gue harus ngambil ijazah SMA di sekolahan, karena itu Arin datang jemput gue biar bisa nebeng motor mungkin. Tapi tak apalah, demi kekasih tercinta apapun kan kuberikan.

"Kebluk mulu tidur lu kebo!" Arin meledek gue.
"Lah elu pagi-pagi dah nyamper kesini, nyari sopir pribadi neng? hus hus, gue udah pensiun wek."
"Belum tau sendal melayang ye lu! dah sana cepetan mandi! baunya nyampe sini wek."
"bau elu tuh yang gak senonoh menuhin ruangan wek." gue langsung nyelonong.

Gue emang sering berantem sama Arin, tapi bukan berarti berantem beneran. temen-temen juga pada nyebut gue sama Arin itu kayak suami - istri, selalu berantem tapi nggak pernah pisah.
setelah selesai mandi, ganti baju, sarapan, dan lain-lain. gue langsung menuju sekolah dengan menaiki Supra-X kesayangan gue bersama kekasih hati.

"Woi med! telat lo! mojok mulu niyee," ledek temen gue yang bernama Ferdi.
"Ciyee ciyee pengantinnya dah dateng niyee," anak-anak yang lain pun jadi ikut-ikutan.
"halahh, ngehek lu pada. dah cabut yok, dimane ijazahnye?" gue langsung to the point.
"woles aja kali bro, main poker dulu noh."
"lah elu kek pengangguran yang frustasi gadapet kerjaan, yaudah lah gue cabut dolo."
"bay bay, good luck bro!"

Gue sama Arin langsung mengambil ijazahnya dan pulang, diperjalanan Arin terlihat ngambek dan diem terus.
"kenapa beb?"
"hmm.. engga, nggapapa kok."
"mau balik ke sekolah lagi?" gue mencoba menebak.
"terserah."

Gue bingung, jujur gue paling nggak peka sama perasaan cewek. tapi entah kenapa, cuma Arin satu-satunya yang masih bertahan bersama gue, meskipun gue cuek dan nggak peka. cuma Arin yang bener-bener serius ngejalanin semuanya bersama gue.

"bro, lu pada dateng ke rumah gue dong. gue lagi bingung nih si Arin ngambek." Sesampainya di rumah, gue langsung nelpon temen-temen gue yang masih di sekolahan.
"lah elu, disuruh maen poker dulu nyantai biar punya banyak waktu ama Arin elu malah langsung cabut bego."
"yaudah deh, yang penting lu pada kerumah gue sekarang. jalan-jalan kek kemana gitu."
"siap bos!"

Mereka pun datang kerumah gue, seperti biasa mereka selalu nyari cemilan saat mampir ke rumah orang. kita ngobrol-ngobrol bentar, diskusi lalu kita jalan-jalan. masing-masing harus bawa pasangannya biar double date, cuma Ferdi yang bawa sahabat ceweknya. kasian banget emang tu anak, sebenernya mereka udah jadian tapi si doi termasuk anak sholehah dan gak dibolehin pacaran sama orang tuanya, jadilah mereka sahabat.

*To Be Continued*


Diary Nirwan 2 : Mysterious Tragedy

09.53 0


Jakarta, 10 April 2008

masalah dengan arwah si Rita sudah selesai, gue pun balik ke jakarta buat kerja seperti biasanya.
"broh, broh! bangun!" seorang teman membangunkan gue dari tidur gue yang cukup pulas itu.

gue emang suka tidur di kantor, karena terkadang gue insomnia dan hampir begadang tiap hari. meskipun setiap malem gue cuma nonton tv, nyari channel yang seru sambil nyeruput kopi. hidup itu simpel buat gue.

"niiirrrwaaann! niiirrrwaaann!" disaat gue sedang duduk santai bekerja, tiba-tiba sesosok makhluk muncul dari balik cermin sambil melambaikan tangannya dan menyebut nama gue.

"ebuset!" gue kaget dan keceplosan.
"kenape lo wan? kek orang abis liat setan aje kaget begitu." temen gue kebingungan.
"brohh, tolong bantuin kerjaan gue dong. gue mau pamit dulu bentar."

karena keadaan yang gak memungkinkan, dan fokus gue bisa buyar akhirnya gue memutuskan untuk pamit pulang.
sesampainya dirumah, ternyata bener makhluk tadi ngikutin gue sampe sini.

"ada apa gerangan mencari saya?" gue tanya baik-baik.
"seepaatuu.. moobiil.. daaraahh."
"maksudnya?"
"hiii hihihihi."

dia gak ngasih penjelasan apapun, cuma ngasih petunjuknya saja. entah kenapa, lagi-lagi gue harus berurusan dengan makhluk beginian.

Jakarta, 11 April 2008

makhluk yang kemarin masih terus mengikuti gue tanpa mengatakan apapun, entah mengapa gue jadi bingung sendiri.
gue tetep kerja seperti biasanya di kantor meskipun ekspresi wajah gue agak ketakutan dan kebingungan, tapi gue tetep bekerja untuk mengimbangi kebutuhan fisik juga.

gue merasa lelah, lalu di jam istirahat gue cuma duduk dikantor sambil memperhatikan layar monitor yang masih menyala.
gue ambil koran yang ada di meja temen gue, gue baca-baca koran untuk menghilangkan kejenuhan.

"kecelakaan lalu lintas tabrak lari di Manggarai."
gue langsung terkejut ketika gue baca judul artikel tersebut, setelah gue baca lebih detail lagi. makhluk itu tiba-tiba berbicara.

"moobiill.. moobiill.. mobil sialan! terkutuk! terkutuk!"
makhluk tersebut rupanya adalah korban tabrak lari, dan si pelakunya adalah anak dari salah satu pejabat berwewenang. dia baru belajar mengemudikan mobil dan tanpa sengaja dia menabrak orang yang sedang menyeberang hingga terpental sekitar satu setengah meter dari tempat mobil tersebut berhenti.

jika orang normal dan sehat-sehat saja, tidak mungkin sampai berujung kematian. gue merasa ada yang aneh dengan artikel berita ini, jika ini memang takdir ataupun jasad si korban sudah ditemukan lalu dikebumikan kenapa arwah si korban ini gentayangan.

Jakarta, 12 April 2008

gue langsung memutuskan untuk menyelidiki tempat kejadian perkara, hari ini hari sabtu jadi gue libur kerja.
gue berusaha untuk menanyakan orang-orang yang berlalu lalang, pedagang, bahkan tukang ojeg disekitar TKP.

namun, hampir semua orang mengatakan bahwa jasad dari korban tersebut sudah dipulangkan ke keluarganya dan dikebumikan.
gue nggak tau dan nggak bisa melihat kejadian yang terjadi di masa lalu atau masa depan, gue cuma sekedar bisa melihat arwah orang yang gentayangan dan jasadnya belum dikebumikan dengan layak.

kemampuan itu emang turun temurun dari keluarga gue, hanya kedua orang tua gue yang gak punya kemampuan tersebut, eyang atau kakek gue dan sesepuh dari keluarga kita hampir semuanya memiliki kemampuan ini.

gue terus berfikir sambil mengingat tentang masa lalu gue, gue adalah anak pertama dari 3 bersaudara. kedua adik gue perempuan dan masih bersekolah, adik yang paling tua sekolah SMA kelas 2 dan adik yang paling muda SMP kelas 3.

sulit untuk menjaga anak perempuan, apalagi dimasa labil seperti ini.
"bssst!" tiba-tiba sebuah bayangan melintas tepat didepan gue, cepat sekali seperti bukan manusia.

"siapa?"
"eh, Nirwan. ini gue Decky." dia muncul dari balik pohon tempat bayangan tersebut berhenti.

*see you next time* 


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita Misteri, Cerita Detektif, Cerita yang mengasah otak, Cerita yang Misterius

Diary Nirwan : Rita Linggarsih

02.53 0




Jakarta, 06 April 2008
Hari ini gue dapet undangan pernikahan dari seorang sahabat masa kecil gue yang sekarang tinggal di Bandung.  Ahh.. cukup lelah juga kalo gue harus jauh-jauh datang ke Bandung cuma buat hadirin acara nikahan, andai aja undangan ini bukan dari sahabat gue, udah pasti gak bakal datang. Tapi karena undangan ini dikirim dari jarak yang cukup jauh beserta pengorbanan dan kenangan bersama seorang sahabat yang selalu ada buat gue waktu gue kecil, dengan terpaksa mau gak mau gue harus dateng. Huftt..

Depok, 07 April 2008
Hari ini gue pergi ke Depok buat mampir kerumah paman gue disini di Depok, kebetulan hari ini plus 2 hari kedepan gue cuti kerja, jadi gue bisa nginep di rumah paman gue. Oh iya, paman gue itu orangnya asyik, easy going, friendly gitulah sama semua orang. Gue gak terlalu deket sih sama paman gue, tapi berhubung dia orangnya asyik dan baik hati, seneng nolong juga. gue kalo main ke rumah dia selalu disuguhin makanan-makanan mewah macem pizza hut, mekdi, KFC, dan sejenisnya.

Tak lupa pula makanan buatan chef rumahan alias istrinya, uenak juga makananya coy.. lebih enak dari makanan yang biasa gue makan di warteg itutuh. Paman gue ini tergolong orang yang berduit, orang kaya gitulah. Tapi sayang, dia punya anak yang bandelnya gak ketulungan sampe-sampe pernah berurusan sama pihak yang berwajib.

Depok, 08 April 2008
Pagi itu gue dibangunin sama suara wajan penggorengan yang jatuh dari tempatnya, “glontranngg!!” kira-kira begitu suaranya. Gue lirik jam yang menunjukkan angka 01.45 WIB, yang artinya udah masuk tanggal delapan dan termasuk pagi hari juga. Abis gue lirik jam, gue langsung bangun dari tidur panjang gue untuk memecahkan sebuah misteri wajan jatuh, dilorong yang gelap itu gue jalan perlahan-lahan, kemudian gue menuruni tangga dengan seksama sambil meperhatikan sekeliling gue takutnya ada maling, paman gue kan orang kaya jadi wajar kalo ada yang syirik.

Ternyata gak ada apa-apa sampe gue udah tiba di dapur tempat wajan tersebut jatuh, disana cuma ada wajan penggorengan biasa dengan pantat yang sudah hitam pekat laksana bayangan malam yang misterius. Saat gue ngambil wajan tersebut, ternyata disana ada sebuah tulisan “Tolong Aku!” , jijik sumpah gue, kenapa jijik? Orang tuh tulisan warnanya merah darah, gue coba usap itu darah pake jari telunjuk gue untuk memastikan kalo itu darah beneran “sssspp!” pas gue usap, itu darah langsung ngilang coy dan jari telunjuk yang gue pake buat ngusap itu darah bener-bener bersih tanpa noda setitik pun.

Okelah gue positip tingking aja mungkin ini setan cuma iseng-iseng doang. Gue benerin posisi wajan sesuai tempatnya, kemudian gue balik ke kamer tamu yang disediain paman buat gue. kamer tamu ini nggak cuma gue doang yang make, tapi orang-orang yang pernah nginep di rumah paman gue juga pernah make. Pas gue rebahan dikasur yang empuk itu, tiba-tiba kayak ada seseorang yang manggil gue “Nirwan.. Nirwan.. tolong aku.. tolong akuu..!” Suaranya lirih, pelan, dan jauh.

Yang artinya itu setan udah deket banget ama gue, karena gue udah tau semenjak gue kecil kalo ada suara kayak gitu suara setan kerasa jauh berarti dia deket, kalo suaranya kerasa deket berarti dia jauh begitu. Gue takut? Jujur aja gue mah nggak takut, gue udah biasa sama yang beginian. Gue udah sering dimintai tolong ama setan-setan yang masih gentayangan meskipun gue nggak bisa liat jin yang udah nggak gentayangan lagi dan menjalani kehidupan mereka di alam mereka sendiri.

Daripada tidur gue terus-terusan diganggu, gue tanggepin aja tuh setan.
 “oke-oke kalo gitu saya bakal bantu anda semampu saya, mana wujud anda sini nampakin biar saya enak ngomongnya.”

Celoteh gue dalam kesunyian itu, gak lama kemudian dia nampakin diri. Lu mau tau wujudnya gimana? Seluruh tubuhnya normal kayak manusia biasa. cuman ada bagian tubuh dia yang hilang, satu bola mata, satu buah tangan kanan yang terpotong sampai ke bagian sikut, kain putihnya penuh darah, baunya busuk gila, mukanya ancur kayak orang abis kena kebakaran, item dekil gitu, dan rambutnya panjang tergurai berantakan.

“aishh, yang enak dipandang napa.”
Gue minta supaya wujudnya diganti ama yang enak dipandang manusia-manusia macem gue ini, dan dalam sekejap ia langsung berubah wujud jadi wanita cantik jelita, Wujud ia waktu masih hidup di dunia.

“sok mangga, penjelasannya.”
Dia menjelaskan panjang lebar tentang kematian tragisnya, beserta hal-hal yang dia ingin gue ngelakuin hal tersebut, dia ingin gue ngelakuin suatu hal yang bikin dia jadi arwah penasaran beserta mencari dan menguburkan jasadnya dengan layak.

Depok, 09 April 2008
Abis dari rumah paman, gue langsung turutin permintaan si arwah penasaran itu. Namanya Rita Linggarsih, 19 tahun, karyawan salah satu perusahaan swasta, korban bunuh diri di jalan kereta. Frustasi karena keluarganya yang broken home. ibunya pelacur, ayahnya tukang mabuk dan tukang judi, Adiknya meninggal dunia dibunuh sama ayahnya sewaktu keluarga mereka lagi bertengkar. kini ayahnya berada di penjara salah satu kantor polisi daerah Depok.

Gue nyari bagian-bagian tubuh dia yang hilang disekitaran jalan kereta tempat dia bunuh diri, agak sulit juga karena kejadiannya sudah cukup lama trus di samping jalan kereta tersebut ada sebuah lahan kosong. Kemungkinan besar bagian tubuh yang hilang itu sudah tertimbun tanah dilahan kosong tersebut atau bisa jadi ada seseorang yang telah mengambilnya.

Tik.. tik.. tik.. bunyi denting jam tangan gue yang ber-merk swiss army, jam tangan ini cukup murah karena waktu itu lagi promo tokonya, daripada mubazir buang-buang duit mending gue beli jam tangan yang cukup elegant ini. Satu jam.. dua jam.. lima jam.. kata temen gue yang biasa disebut Patrick abis angka dua itu angka lima, bukan angka tiga.

Berjam-jam gue nyari bagian tubuh yang hilang itu, gak ketemu-ketemu. Sampe akhirnya gue memutuskan buat make ritual semacem terawangan gitu, ritual ini biasa dipake sesepuh-sesepuh di keluarga gue dan dipake buat nyari barang-barang yang hilang.

 *Bersambung*


Tags: Cerbung, Cerita Bersambung, Cerita Misteri, Cerita Detektif, Cerita yang mengasah otak, Cerita yang Misterius