Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Serdadu Cinta 3 : New Activity

15.38 1


Setelah ngambil ijazah, gue berencana buat bekerja di sebuah perusahaan. namun nyokap gue nyuruh gue untuk ngambil kuliah aja, sebagai anak tentunya gue mempertimbangkan kata-kata nyokap gue yang menginginkan gue menjadi seorang yang berpendidikan tinggi.

sejujurnya gue nggak begitu peduli sama pendidikan atau kuliah. Namun, keinginan orang tua nggak bisa gue abaikan begitu saja. karena siapa tahu keinginan mereka dapat membawa nasib baik bagi hidup gue.
gue sadar selama ini gue udah sering nyakitin orang tua, udah sering bikin orang tua susah payah mencari nafkah demi menghidupi gue. karena itu, bagi gue kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan gue juga.

mereka mendaftarkan gue di sebuah universitas swasta di daerah sini, Arin juga lebih memilih kuliah dahulu untuk dapat memperbaiki nasib di masa depan nanti bersama gue.
gue sama Arin satu kampus, hanya berbeda jurusan. gue ngambil jurusan TI sementara Arin ngambil jurusan Psikologi.

setiap berangkat ngampus kita selalu bersama-sama. berbeda dengan pada saat SMA, kita memiliki banyak sahabat yang mendukung kita atau menemani kita. di kampus ini, kita hanya berdua karena sebagian besar mereka lebih memilih bekerja demi turut membantu keuangan keluarga. sebagian lainnya ada yang merantau jauh untuk belajar hidup mandiri.

"Hoi Med, apakabar?"
"baik, lo gimana fer? kemana aje lo?"
"gue kerja di daerah sono, nggak jauh-jauh amat sih dari kota ini."

Ferdi menghampiri gue dan Arin yang sedang berduaan di taman dekat kampus. seperti biasa, dia selalu menggembor-gemborkan hubungan gue sama Arin.
kita pun ngobrol bersama untuk waktu yang cukup lama, hingga Ferdi pamit pulang dan melanjutkan pekerjaannya disana.

"sayang~ aku mau pergi sama temen-temenku dulu ya."
"pergi kemana? aku anterin."
"engga usah, mereka ada di toko depan sana. dah yaa, bay bay."

Arin melambaikan tangannya, meninggalkan gue yang duduk sendirian bersama Supra X kesayangan gue.
gue enggak begitu peduli, mungkin dia pergi sama temen-temen cewek nya yang baru kenal di kampus. jadi, gue memutuskan untuk pulang sendirian dan bermain game di rumah.

'ngring ngring' hape gue berbunyi tanda ada panggilan masuk.
"halo sayang~"
"maaf ini bukan Arin, ini gue cowoknya."

seketika, hati gue langsung panas. gue langsung emosi dan memuncak. selama ini gue nggak pernah ngusik urusan pribadi Arin, selama ini gue mempercayai dia. tapi ternyata dibelakang gue dia diam-diam berhubungan sama cowok lain.
tanpa meminta penjelasan, gue langsung tutup telponnya dan langsung on the way mencari Arin.

sesampainya disebuah restoran, gue melihat Arin sedang makan bersama seorang cowok yang nggak gue kenal. gue langsung menghampiri mereka, dan 'bugh!' gue langsung mukul cowok itu.
"woi?! jawab gue?! sejak kapan lo pacaran sama Arin hah?!"

'bugh!' gue kena pukul dibagian pipi kiri.
"udah-udah medi!"
"lo manggil gue medi?! mana panggilan sayangnya hah?!"

Arin langsung narik cowok itu dan berlalu pergi bersamanya. gue ngejar, tapi ditahan sama penjaga restoran tersebut.

*Bersambung*

Serdadu Cinta 2 : Seventeen Days

06.00 1


Hari itu kita semua ke pantai, di pantai itu kita bercanda, tertawa, bermain pasir bersama-sama hingga senja tiba.
gue sama Arin duduk di sebuah tikar yang memang sudah dibawa dari rumah sebagai salah satu alat pendukung acara ini.

"Happy Birthday, Sayang." gue melemparkan senyum termanis gue, gue tatap mata Arin yang berkilauan, dan tiba-tiba dia memeluk gue dengan eratnya.
"tunggu dulu, ini belum selesai. Oi bocah-bocah kampret, sini ngumpul." gue berteriak memanggil mereka semua para sahabat gue.

Ferdi membawa kue ulang tahun yang sudah gue siapkan sebelum bertemu Arin di hari ini.
"Happy birthday to you! happy birthday to you! happy birthday! happy birthday! happy birthday to you!" semuanya bernyanyi sambil tepuk tangan.
"tiup lilinnya! tiup lilinnya! tiup lilinnya sekaraang juuga! seekaraang juuga."

"fyuhh!" Arin meniup lilinnya dan "horee!" semuanya bertepuk tangan dengan meriah.
Arin menangis bahagia, memeluk gue dengan erat untuk menutupi rasa malunya.

"Makasih ya sayang, udah jadi pacar yang terbaik buat aku." Arin melemparkan senyum hangatnya ke gue dan gue tersipu malu.
"ng.. anu.. ng.. nggapapa kok, btw.. Thanks atas perhatianmu selama ini, aku bisa berdiri disini dengan semangat, aku bisa mendapat peringkat nomer satu disekolah, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga dan teman-teman. semuanya berkat kamu, karena ada kamu disisiku."

"ciaa elaa.. Medi so sweet deh, yaudah yok kita mulai potong kuenya." Ferdi menyoraki gue diikuti dengan yang lainnya.
"Potong kuenya! potong kuenya! potong kuenya sekaraang juuga! seekaraang juugaa!"

acara yang sedaritadi ditunggu bocah-bocah pun dimulai, yaitu acara makan-makan bolu.
gue sama Arin hanya tertawa geli melihat tingkah laku mereka yang memang seperti bocah-bocah, mungkin karena yang ada di otak mereka cuma makanan doang.

"this is your seventeen days baby, aku minta maaf kalo sebelumnya aku cuek sama kamu. aku cuma pengen rencana ini berjalan perfect, hehe."
"ahh.. udahlahh, aku jadi maluu tauu." Arin cemberut dan memukul pundak gue dengan manja.

semuanya terasa indah didampingin background matahari senja yang mulai tenggelam, kami pun berfoto ria untuk mengukir kenangan di hari ini yang merupakan kenangan terindah yang selama ini belum pernah gue miliki.

sampai pada akhir acara, menjelang maghrib kita semua pulang ke rumah. Gue sama Arin pastinya, dan diperjalanan itu Arin hanya diam dan memandang langit, gue gak tau apa yang ada di fikiran Arin saat itu.
sesampainya di rumah Arin, gue langsung pamit pulang karena udah maghrib.

*To Be Continued*


 

Serdadu Cinta : My Girlfriend

16.22 0


gue Medi, nama panjang gue Mediterania. serius, gue juga nggak tau kenapa orang tua gue ngasih nama gue Mediterania, mungkin mereka punya kenangan tertentu yang gak bisa lepas dari Mediterania.

Pagi itu,
"Med! bangun! woy Med!" emak gue menggoyang-goyangkan tubuh gue yang masih ABG ini.
"huahhh, iye mak. masih pagi ini ah." gue ngucek-ngucek mata sambil menunjukkan ekspresi cemberut.
"ntu ada si Arin dateng kemarih."
"ha?! Arin?! wokeh ma wokeh!" gue mendadak semangat bangun dan langsung beres-beres.

Arin adalah pacar gue, sekaligus temen masa kecil gue. sejak kecil kami selalu bermain bersama, di halaman rumah gue yang cukup luas. namun, itu semua tak bertahan lama. di masa SMP, gue sama Arin mulai agak jaga jarak dan canggung.
Jujur saja, gue naksir Arin yang masih SMP. dia terlihat semakin cantik, tak seperti Arin yang waktu SD yang tak kenal dengan penampilan dan alakadarnya saja.

Hari ini adalah hari dimana gue harus ngambil ijazah SMA di sekolahan, karena itu Arin datang jemput gue biar bisa nebeng motor mungkin. Tapi tak apalah, demi kekasih tercinta apapun kan kuberikan.

"Kebluk mulu tidur lu kebo!" Arin meledek gue.
"Lah elu pagi-pagi dah nyamper kesini, nyari sopir pribadi neng? hus hus, gue udah pensiun wek."
"Belum tau sendal melayang ye lu! dah sana cepetan mandi! baunya nyampe sini wek."
"bau elu tuh yang gak senonoh menuhin ruangan wek." gue langsung nyelonong.

Gue emang sering berantem sama Arin, tapi bukan berarti berantem beneran. temen-temen juga pada nyebut gue sama Arin itu kayak suami - istri, selalu berantem tapi nggak pernah pisah.
setelah selesai mandi, ganti baju, sarapan, dan lain-lain. gue langsung menuju sekolah dengan menaiki Supra-X kesayangan gue bersama kekasih hati.

"Woi med! telat lo! mojok mulu niyee," ledek temen gue yang bernama Ferdi.
"Ciyee ciyee pengantinnya dah dateng niyee," anak-anak yang lain pun jadi ikut-ikutan.
"halahh, ngehek lu pada. dah cabut yok, dimane ijazahnye?" gue langsung to the point.
"woles aja kali bro, main poker dulu noh."
"lah elu kek pengangguran yang frustasi gadapet kerjaan, yaudah lah gue cabut dolo."
"bay bay, good luck bro!"

Gue sama Arin langsung mengambil ijazahnya dan pulang, diperjalanan Arin terlihat ngambek dan diem terus.
"kenapa beb?"
"hmm.. engga, nggapapa kok."
"mau balik ke sekolah lagi?" gue mencoba menebak.
"terserah."

Gue bingung, jujur gue paling nggak peka sama perasaan cewek. tapi entah kenapa, cuma Arin satu-satunya yang masih bertahan bersama gue, meskipun gue cuek dan nggak peka. cuma Arin yang bener-bener serius ngejalanin semuanya bersama gue.

"bro, lu pada dateng ke rumah gue dong. gue lagi bingung nih si Arin ngambek." Sesampainya di rumah, gue langsung nelpon temen-temen gue yang masih di sekolahan.
"lah elu, disuruh maen poker dulu nyantai biar punya banyak waktu ama Arin elu malah langsung cabut bego."
"yaudah deh, yang penting lu pada kerumah gue sekarang. jalan-jalan kek kemana gitu."
"siap bos!"

Mereka pun datang kerumah gue, seperti biasa mereka selalu nyari cemilan saat mampir ke rumah orang. kita ngobrol-ngobrol bentar, diskusi lalu kita jalan-jalan. masing-masing harus bawa pasangannya biar double date, cuma Ferdi yang bawa sahabat ceweknya. kasian banget emang tu anak, sebenernya mereka udah jadian tapi si doi termasuk anak sholehah dan gak dibolehin pacaran sama orang tuanya, jadilah mereka sahabat.

*To Be Continued*


You and Your Dress 2 : She is My Everything

04.57 0


Gue minta ijin ke orang tua gue buat pindah sekolah ke Surabaya, ortu gue nolak mentah-mentah. Gue terus-terusan ngomel-ngomel biar mereka stress dan capek karena gue tiap hari ngomel, pokoknya sampe diijinin gue bakal terus ngeganggu mereka. Memang begitulah gue, sejak kecil gue selalu merengek kalo minta apa-apa bahkan gak bakal berhenti sampe gue bisa dapetin apa yang gue pengen.

Tolong sikap gue yang ini jangan ditiru ya, kasian ortu kalian ntarnya. Hari demi hari gue masih tetep ngegangguin ortu gue demi mendapatkan ijin untuk pindah. Akhirnya gue berhasil diijinkan untuk pindah, gue bangga banget waktu itu karena gue bakal ketemu sama dia langsung di TKP plus bisa jalan bareng ama dia yohoooo kepala adik gue gue jedotin ketembok berkali-kali sambil bilang
“dek gue bakal pindah dek *brak* gue bakal pindah, *brak* dek dengerin gue dek *brak* gue bakal pindah *brak* dek lu denger gue kagak asem *brak* eh sorry dek, lu gapapa kan?”
“gapapa ndasmu! Kepala gue sakit bego.”

Nggak lah, nggak sampe segitunya juga gue nyakitin adik gue sendiri. Keesokan harinya gue udah mulai beres-beres buat pindah ke Surabaya, gue bakal tinggal di rumah paman gue disana. Gue nggak ngasih tau Tania dulu biar surprise gitu niatnya. Urusan sekolah gue disini itu kalo nggak berangkat lebih dari sebulan maka akan di cap keluar dari sekolah, jadi gue nggak bilang bakal keluar sekolah hari itu juga tapi gue nunggu jangka 1 bulan itu abis. Takutnya pas gue udah di Surabaya gue malah gabetah tinggal disana dan pengen balik lagi.

Sesampainya gue di Surabaya, gue disambut hangat oleh keluarga paman gue disana. Paman gue cuma punya satu anak cowok yang usianya 5 tahun lebih muda dari gue jadi masih ada ruang kosong lah di rumahnya. rumah paman gue itu termasuk perumahan yang biasa berjejer-jejer tuh yang bentuk rumahnya hampir sama tapi cukup luas juga ternyata.

Gue langsung SMS Tania buat minta alamat nya, Cuma sekedar minta alamat doang gue gabilang mau kesana biar surprise gitu. Dan esok harinya, gue langsung nyari alamat itu sambil nyari temen di daerah sini biar bisa main juga kan lebih enak kalo rame-rame. Tentunya gue selektif dong dalam memilih temen, gue lebih milih orang yang cupu atau culun dan sendirian dibanding orang yang sangar atau ber-geng.

Oiya, gue belum masuk sekolah waktu nyari alamat itu. Niat gue sih kan cuma pengen ketemu sama Tania tersayang doang kesini tuh. Gue Tanya-tanya ke orang-orang yang ada di deket daerah situ tentang alamat rumah yang tepat. Sempet gue nyasar ke rumah orang lain dan diketawain dibelakang. Ini bahaya juga nih kalo mau nanya-nanya jangan asal nanya sama orang lain, tapi diliat dulu orangnya kayak gimana, kalo asal nanya bisa-bisa di nyasarin kayak gue ntar.

Gue mulai nyari alamat nya sekitar jam 9.45 pagi sampe sana baru ketemu rumahnya sekitar jam 13.39 siang. Gila, lumayan lama juga ya gue nyari satu alamat rumah doang.

“selamat siang, ibu.. apa benar ini alamat rumah blablabla.” Tanya gue
“oh iya benar, nyari siapa dek?”
“Tania nya ada bu?”
“oh ada, silakan masuk dulu dek.”

Gue dipersilahkan duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah tersebut, rumahnya lumayan gede juga. Oh iya, tadi gue nggak bilang assalamu’alaiku
m karena keluarga Tania ini bukan muslim, tapi katholik. Nah, kok bisa ya gue bertahan sama orang yang beda agama. Udah gue bilang namanya cinta mah gak pandang agama, ras dan suku bangsa.

Gue sayang ama dia tulus, gue cinta ama dia tulus ampe gue rela pindah ke Surabaya cuma buat bisa ketemu dia tiap hari di dunia nyata. Gue pengen tau keseharian nya, gue pengen tahu sifat aslinya, gue pengen terus bisa disampingnya, gue pengen selalu bisa memandang wajah cantiknya. Tapi itu semua hanya khayalan, sepertinya.

Dari balik pintu dia muncul dengan kaos pendek winni the pooh warna pink dan celana jeans se lutut, rambutnya yang hitam panjang sepunggung disertai poni menghadap kanan terurai dengan gemulai.

“eeehh! La.. Lanaaaa?!”
“sssttt… gausah teriak-teriak.”

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang Nampak lebih tua dan lebih tinggi dariku muncul dan mengatakan
“oh, lihat.. pacarnya Tania ada disini. Gimana kabarnya bro? kok bisa nyampe sini?”

Gue cuma menjawab seadanya aja sambil sedikit berbasa-basi, nampaknya kakaknya Tania seneng banget gue bisa nyampe sini. Kakaknya bercerita banyak hal tentang Tania, kemudian diikuti ibunya juga ikut nimbrung ke pembicaraan ini. Sekeluarga tampaknya seneng banget gue bisa nyampe sini, bener-bener luar biasa ini keluarga. Kalo gue bawa cewek ke rumah gue mungkin gabakal kayak gini. Justru ntar gue yang dimarahin huft.

Disana gue diajak ngobrol bahkan sampe diajak maen game bareng, berasa punya keluarga baru gue disana, khususnya Nathania Belinda yang paling gue sayang. Sore harinya gue berpamitan pulang dan bilang besok-besok kalo ada waktu kesini lagi.

Esok haripun tiba, gue ngajak Tania jalan-jalan berdua, yaa kayak orang pacaran pada umumnya aja gimana gitulah.

** * --- * **

Satu minggu telah berlalu, hampir tiap hari kita ketemuan berbagi canda tawa bersama, melakukan segala hal bersama-sama, main game bersama, masak bersama, trus nonton bersama, bahkan rencananya kamis besok kita akan camping bersama keluarga Tania. gue langsung minta ijin paman buat ikut camping di hari itu, paman khawatir sebenarnya dan dia menghubungi mama untuk meminta ijin juga. Awalnya mama menolak tapi paman berusaha meyakinkan bahwa gue bakal baik-baik aja.

Kamis itu gue bersama keluarga Tania pergi camping ke daerah yang cukup primitive dan asing buat gue, tapi mereka bilang mereka udah sering kesana tiap tahun ngadain acara camping keluarga. Dan, naas sekali diperjalanan mobil kita malah ditabrak sebuah truk besar yang ngebut dan menghantam dari pertigaan, truk tersebut menghantam bagian kanan mobil. Sedangkan gue duduk di bangku belakang di deket jendela bagian kiri mobil.

Mobil yang kita tumpangi tersebut terdorong keras dan hampir terguling, untungnya mobil truk tersebut segera menurunkan kecepatan nya dan berhenti kemudian disusul warga setempat yang mulai ramai mendatangi lokasi kejadian untuk memastikan tidak ada yang meninggal. Tapi sayang, tak bisa dipungkiri lagi 2 korban meninggal dunia, gue, kakak, dan ibu Tania masih selamat dan hanya mengalami luka-luka.

Tapi, Tania yang paling gue sayang beserta ayahnya, telah menghembuskan nafas terakhirnya karena posisi mereka lah yang paling parah atau paling fatal dari peristiwa tabrakan tersebut. Kita sempet dilarikan ke rumah sakit dan segera di tangani oleh dokter rumah sakit tersebut. Sesampainya di rumah sakit, mata gue mulai terlelap sedikit demi sedikit menutup menuju alam mimpi.
Di dalam mimpi gue masih teringat jelas, gue melihat Tania disana. Tania yang mengenakan gaun putih dan bando yang diselipkan diatas kepalanya berlari kearah gue, mengajak gue untuk pergi bersamanya. Namun gue nggak bisa, gue nggak bisa pergi dengan nya. Dia mengucapkan sebuah kata-kata yang nggak jelas suaranya, tapi bisa gue tebak. untuk terakhir kalinya dia bilang “Terimakasih atas segalanya, maaf tak bisa selalu bersamamu, aku mencintaimu.. sangat-sangat mencintaimu.. Lana Erlangga.”

Air matanya menetes membasahi pipi mungilnya, kesedihannya menutupi seluruh wajah cantiknya, kemudian menghilang bersama seluruh bayangan tentang dirinya. Aku mencintaimu.. sangat-sangat mencintaimu.. Nathania Belinda.

(Cerita diatas hanyalah fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesamaan, kekurangan atau apapun itu, terimakasih)
*Selesai* 


Tags: Cerpen, Cerita Pendek Mengharukan, Cerita yang bikin nangis, Cerita paling sedih, Cerita Romantis meneteskan air mata, Cerita tentang Cinta yang tak tersampaikan

You and Your Dress : Long Distance Relatonship

04.56 6


Sebuah kisah indah terkadang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri tanpa hal yang jelas. Namun, sebagian dari kita tidak menginginkan nya. Manusia itu simpel, mereka akan melakukan apapun yang mereka inginkan, tapi mereka juga akan melakukan apapun yang tidak mereka inginkan karena adanya paksaan. Orang yang hidup dengan paksaan, mereka cenderung terlihat lebih pemalas karena memang harus dipaksa terus jika harus melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan.

Nathania Belinda, Surabaya, 26 Juni 1999. Sesosok anak perempuan yang sangat berarti buat gue, dia yang telah mengajarkan gue banyak hal tentang dunia maya. Bahkan dialah orang pertama mengajarkan gue arti dari Long Distance Relationship, kita berbagi canda tawa bersama meski jarak membentang jauh diantara kita, kita tetap berpegang teguh pada satu hati, satu janji, dan satu yang pasti.

Malem itu dia nelpon gue, kurang lebih seperti ini percakapan nya.

“halo sayang.” dia menyapa duluan
“halo, ada yang bisa saya bantu?”
“hahaha, tolong mampir kesini dong ke Surabaya.”
“jiahh.. kejauhan, ntar deh kapan-kapan.”
“janji yaa.”
“iyaa aku janji, kamu lagi ngapain?”
“lagi ngeliatin kakak nonton bola.”
“oo, yang di R*TI tu kan?”
“iya.”
“taruhan yuk, aku pilih MU . ntar yang kalah harus nyium yang menang.”
“ahaha.. hmm.”
“hayoo lagi ngebayangin yang nggak-nggak ya?”
“ishh apaan sih wlee.”
“ dah malem nih, tidur sana jangan hunting monster mulu.”
“iya bawel huu.”

Yaa kurang lebih seperti itu, sebenernya masih panjang tapi ntar disangkanya ini naskah drama bukan cerpen. tolong jangan dipraktekin di rumah ya, adegan diatas itu khusus 18 keatas lho. Malem itu gue langsung tidur, udah ngantuk banget si bodo amat mau dia masih melek masih maen game yang penting jangan sampe sakit itu aja dah.

Besoknya kita berdua sama-sama libur sekolah yaa Alhamdulillah sesuatu. Pagi-pagi itu gue langsung buka laptop langsung maen game online g***d c***e . maap ya disensor, kalo nggak disensor takutnya di datengin KPI trus dipenjara, mati dah gue kalo gitu.

Oke lanjut, langsung gue buka tuh game, gue liat-liat di tab “chat” dia udah OL jam segini ? weh, gila nih anak jangan-jangan begadang semaleman.

“sayang, kamu begadang yaa? Udah dibilangin jangan begadang.” Gue mulai duluan
“ini siapa?”
“lho, emang situ siapa?”
“ini kakaknya Tania, kamu siapa? Pacarnya kah?”
“hehe, maap kak. Iya ini pacarnya.”
“oh gitu, hunting yuk. Si Tania semalem tidur kaga di logout yaudah saya mainin aja.”
“oh gitu ya, yaudah hayuk.”

Apesnya gue, niatnya gue bangun pagi-pagi buat naikin lv. Sendirian biar dia kaget tiba-tiba lv. Gue udah gede lagi aja, eh malah lv. Dia yang lebih gede dari lv. Gue. Kalah dah gue, dimainin ama kakaknya pula.

Abis hunting monster ama kakaknya bentaran, gue langsung mandi sholat biar dikata anak rajin. Abis itu gue langsung maen lagi sambil nunggu emak bawain sarapan buat gue. Baru juga gue mau maen, tiba-tiba ada satu pesan masuk di tab “chat” gue klik dan gue baca “maap ya sayang, tadi itu kakak aku yang maen.” Gue Cuma jawab iya trus kita hunting bareng sambil ngobrol becanda tawa kayak orang pacaran aja, bedanya kita mah pacaran nya di dunia game, di dunia maya.

Gue pacaran ama dia bukan karena avatar atau character game yang dia mainin, gue pacaran ama dia karena kita sering main bareng, berbagi canda tawa, curhat, dll. Meskipun hanya di dunia maya, gue merasa cukup puas karena yaa.. namanya cinta itu buta, nggak mandang fisik nggak mandang apapun. Asalkan kita saling merasa nyaman, saling merasa tertarik, saling merasa peduli aja itu udah cukup.

Biarpun Cuma di dunia maya, kita bisa webcam-an, Kita bahkan ngobrol satu sama lain secara ‘live’ melalui webcam. Pertama kali kita webcam-an, gue takjub ama dia. Gimana nggak takjub coba, ternyata selama ini gue mencintai cewek yang imut dan cantik. Hmm.. tidak terduga.

Alhamdulillah ya, gue bisa dapetin cewek cantik juga akhirnya meskipun kita belom pernah ketemu satu sama lain. Gue gapernah takut sama yang namanya manusia-manusia
PHO (nggak tau PHO ?? mending lu balik trus nyambel biar kenyang. PHO itu Pemutus Hubungan Orang) karena emang dia tiap hari juga OL terus gitu gapernah absen, malah gue yang kadang absen karna diajak main ama temen-temen yang biasanya petualangan seharian penuh rame-rame ke mana aja.

Kadang-kadang dia nanyain gue kemana kalo gak OL seharian, bahkan sampe nelpon gue. Alhamdulillah, berkah ya punya pacar kayak dia. Karna emang ya gue si jujur aja, selama ini dialah mantan gue yang paling cantik diantara mantan gue yang lain nya.

Hari-hari gue jadi berwarna karena dia, gue rela ngosongin kantong buat beli cash, buat beli kuota yang waktu itu mah masih agak mahal gakaya sekarang banyak yang murah-murah. Itu semua demi dia, Tania tersayang. Konyol ya memang, temen-temen gue juga sempet ngetawain gue karena gue belum pernah ketemuan ama pacar gue seumur-umur. Tapi itu semua gak jadi masalah buat gue, gue yakin suatu saat gue bisa ketemu ama dia.

** * --- * **

Sudah hampir 3 bulan berlalu, gue sama dia masih tetep keukeuh kayak dulu meski banyak konflik yang telah kita alami tapi hubungan kita tidak akan pernah terhenti. Sampe akhirnya gue mutusin buat pergi ke Surabaya, kesana kerumahnya menemuinya lalu berjalan bersama dengan nya.

*Bersambung*


Tags: Cerpen, Cerita Pendek Mengharukan, Cerita yang bikin nangis, Cerita paling sedih, Cerita Romantis meneteskan air mata, Cerita tentang Cinta yang tak tersampaikan